Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dirasakan semakin dalam dan lebar. Terlebih dengan laporan yang menyebutkan sekitar 10 persen dari total pendapatan di negara maju berasal dari orang kaya yang hanya berjumlah satu persen dari populasi global.
Dalam laporan terbarunya, Dana Moneter Internasionl (IMF), menyatakan keprihatinannya terhadap disparitas pendapatan di berbagai belahan dunia, yang disebut telah berada " pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade" .
Hal itu memicu kesenjangan pendapatan yang tumbuh dengan cepat, termasuk di Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), serta India.
Dalam laporan yang diterbitkan Juni lalu, IMF mendesak pemerintah di berbagai negara untuk fokus mencari solusi demi membantu meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan kelas menengah. IMF mengatakan kemakmuran yang merata akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa jika kekayaan dunia hanya terkonsentrasi untuk kalangan atas, sedangkan pendapatan warga miskin tetap stagnan, maka pertumbuhan dan kelangsungan ekonomi global akan menderita.
" Secara khusus, jika pangsa pendapatan dari 20 persen (orang kaya) meningkat, maka pertumbuhan PDB sebenarnya menurun dalam jangka menengah," tulis laporan tersebut yang dikutip dari Gulf News, Sabtu, 1 Agustus 2015.
Sebaliknya, jika orang-orang berpenghasilan rendah diberi kesempatan untuk menambah pendapatan mereka, ekonomi akan berkembang.
" Peningkatan pangsa pendapatan di bawah 20 persen (orang miskin) telah dikaitkan dengan PDB yang lebih tinggi. Orang miskin dan kelas menengah sangat berpengaruh pada pertumbuhan (ekonomi)," kata laporan itu.
Laporan tersebut telah menyebabkan sejumlah hal yang mungkin akan terjadi seperti di bawah ini, yang tentu akan menghambat investasi jika tren ini terus berlanjut:
1. Krisis keuangan
Ada keterkaitan antara kesenjangan kekayaan dan krisis keuangan. " Bukti-bukti menunjukkan bahwa meningkatnya pendapatan orang kaya dan stagnannya pendapatan kelas miskin dan menengah memiliki efek pada krisis keuangan, dan dengan demikian secara langsung menghambat pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan jangka panjang."
" Dalam penelitian secara khusus telah ditemukan bahwa ketimpangan (kekayaan) yang tinggi dalam waktu lama di berbagai negara telah dikaitkan dengan krisis keuangan global yang disebabkan oleh kredit yang terus diperpanjang dan relaksasi dalam standar penjaminan hipotek."
2. Konflik
Jika orang kaya semakin kaya dan orang miskin tidak mengalami perbaikan apapun dalam hidupnya atau pendapatannya, maka " kepercayaan dan kohesi sosial" kemungkinan akan rusak. Hal menimbulkan konflik yang buruk bagi investasi.
" Konflik sangat lazim terjadi dalam pengelolaan sumber daya umum. Misalnya, ketidaksetaraan membuat proses penyelesaian perselisihan menjadi lebih sulit. Lebih luas lagi, ketimpangan memengaruhi konflik ekonomi, karena dapat mengintensifkan keluhan yang dirasakan oleh kelompok tertentu."
3. Ketimpangan menimbulkan lebih banyak kemiskinan
Apa yang terjadi jika orang miskin terus menderita dengan pendapatan yang stagnan? Mereka tidak akan dapat mengirim anak-anak mereka ke sekolah yang baik atau mendapatkan masa depan yang lebih baik dalam finansial. Ketika anak-anak ini menjadi dewasa dan memiliki keturunan, siklus tersebut akan terus terulang. Memang hal ini tidak terjadi pada semua orang, tetapi risiko kemiskinan sangat tinggi bagi mereka yang lahir dalam keluarga miskin.
" Ketidaksetaraan pendapatan menghambat pengurangan kemiskinan," kata laporan itu. " Pengurangan kemiskinan berjalan kurang efisien di negara-negara dengan tingkat ketimpangan yang tinggi atau di mana pola distribusi pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh non-miskin."
4. Kebijakan yang menguntungkan kelompok tertentu
Salah satu bahaya sebuah pemerintah membiarkan warga kaya mendapatkan kekuasaan yang lebih adalah terciptanya kebijakan publik yang buruk. " Misalnya, dapat menyebabkan reaksi terhadap liberalisasi ekonomi dan pengetatan bahan bakar yang berorientasi pada globalisasi dan reformasi pasar," kata laporan itu.
" Pada saat yang sama, daya beli yang kuat hanya dari kalangan elit bisa mengakibatkan terbatasnya barang publik yang bisa meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan sehingga secara proporsional tidak menguntungkan orang miskin."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya