Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dream - Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan menguatnya mata uang negara itu telah menjadikan emas tidak menarik lagi bagi kalangan investor. Namun penurunan lebih jauh kemungkinan akan terjadi yang menyebabkan emas semakin tidak menarik untuk dijadikan investasi oleh investor.
Seperti diketahui, harga spot emas internasional terus mengalami penurunan. Pada pekan lalu, penurunan harga emas terus berlanjut yang merupakan terbesar sejak 1996. Emas diperdagangkan di level US$ 1.100 per ounce, turun US$ 300 sejak tahun 2013.
Namun, penurunan saat ini juga dipicu oleh Tiongkok yang pada 17 Juli lalu telah mengumumkan akan meningkatkan cadangan emas mereka hingga 60 persen atau 1,658 metrik ton per akhir Juni, jauh lebih rendah dari ekspektasi analis.
" Berita dari Tiongkok telah mengecewakan pasar karena investor berharap bahwa negara tersebut akan meningkatkan persediaan emasnya agar mata uang yuan memiliki kredibilitas di mata internasional. Namun hal itu ternyata tidak terjadi," kata Carsten Menke, analis komoditas pada Bank Julius Baer & Co kepada Gulf News dari Zurich.
" Pada Senin pagi, setelah perdagangan Asia mulai dibuka, harga emas mulai berjatuhan kami memiliki jatuh besar dalam harga emas," kata Menke, seperti dikutip dari Gulf News, Jumat, 31 Juli.
Naiknya tingkat suku bunga AS juga semakin menurunkan nila masa depan emas. Dengan suku bunga yang semakin naik, membuat investor lebih tertarik pada saham daripada emas.
Tingkat suku bunga yang lebih tinggi juga menguatkan dolar AS sehingga sehingga inflasi tetap terjaga. Menguatnya dolar juga mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap kenaikan harga.
" Kami melihat perbaikan dalam ekonomi global, dan suku bunga sedang menuju ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga bukan lingkungan yang baik bagi investor yang tertarik membeli emas atau memegang emas," kata Menke.
Para analis di JP Morgan pun setuju dengan pandangan Menke ini.
" Kami percaya akan ada tekanan pada harga emas dalam waktu dekat. Dalam lingkungan di mana dolar menguat dan tingkat suku bunga naik, investor akan cenderung menjaga sikap bearish terhadap emas," kata Cesar Perez, Global Head of Investment Strategy, J.P. Morgan Private Bank.
Bahkan Morgan Stanley mengatakan bahwa dalam skenario terburuknya emas mungkin akan anjlok ke level US$ 800 per ounce.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya