6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://ANTARAfoto.com)
Dream - Investor kembali berburu saham jelang penutupan perdagangan saham. Sentimen regional dan harga minyak mentah dunia akhirnya membuat indeks syariah berbalik ke zona hijau.
Saham-saham di sektor industri aneka menjadi motor pendorong indeks saham. Selain emiten infrastruktur dan pertambangan.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 16 Maret 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia menguat 0,755 poin (0,49%) ke level 156,167.
Indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII), juga berhasil menjaga penguatan yang dicetak diawal perdagangan. Indeks JII naik 3,639 poin (0,55%) ke level 661,667.
Penguatan ISSI kali ini dicapai dengan susah payah. Sentimen negatif dari kondisi regional yang variatif membuat investor menahan diri turun ke lantai bursa.
ISSI yang dibuka melemah bahkan sempat jatuh ke level terendahnya di 155,076.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 3,37 triliun dengan 33,69 miliar saham berpindahtangan.
Aksi beli mengangkat 125 emiten syariah ditutup menguat. Namun ISSI masih meninggalkan 65 emiten di zona merah dan 60 lainnya bertahan stagnan.
Saham kelompok Astra dan BUMN menjadi motor penggerak indeks saham bluechips syariah. Top gainer emiten bluechips syariah dipimpin AALI Yang naik Rp 330. Disusul UNTR Rp 200, INTP Rp 150, SMGR Rp 125, dan WIKA Rp 120.
Sebaliknya, saham kelompok Indofood justru menghadapi tekanan. Top losser JII dihuni oleh AKRA yang turun Rp 225, ICBPP Rp 225, INDF Rp 200, LPPF Rp 50, dan INCO Rp 40 per saham.
Dari pasar keuangan, dolar AS tampaknya sedang menunjukan kekuatannya. Sore ini dolar AS menguat 110 poin (0,84%) terhadap rupiah di level 13.265 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya