Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Ilustrasi (merdeka.com)
Dream - Muda, pintar, dan enerjik, inilah yang mungkin terbersit di pikiran mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan kala bertemu Laily Prihatiningtyas. Sosok Laily begitu berkesan usai menjalani rapat pimpinan tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero).
Tanpa berpikir panjang, Dahlan langsung menunjuk perempuan berhijab itu sebagai direktur utama perusahaan plat merah itu.
Namun, Laily yang saat itu tengah menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Penyajian Informasi Kementerian BUMN atau setara eselon IV meminta kepada Dahlan Iskan agar dirinya tetap mengikuti fit and proper test sebagai Dirut. Dia pun lulus dan menjadi dirut BUMN perempuan termuda saat ini.
" Secara legal itu kewenangan Menteri BUMN selaku pemegang saham untuk menunjuk siapapun sebagai direksi BUMN. Tapi, saya tetap meminta agar dilakukan sesuai prosedur," ujarnya kepada Dream, Rabu, 11 Maret 2015.
Laily memulai karirnya sebagai pegawai Kementerian BUMN pada tahun 2007 setelah lulus di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pada tahun 2006. Sambil bekerja dia pun melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2009 dan berkesempatan mengambil gelar masternya di Belanda pada tahun 2010 untuk bidang manajemen dan keuangan selama satu tahun.
Sebagai anak bawang dalam jajaran direksi dan harus langsung memimpin sebuah perusahaan, Laily mengaku mendapatkan resistensi dan keraguan dari berbagai pihak. Namun, hal tersebut tidak dijadikannya sebagai penghalang dalam melaksanakan tanggung jawabnya.
" Resistensi itu normal karena ada perbedaan budaya, gaya komunikasi, dan banyak keraguan terhadap profil saya, dianggap kurang berpengalaman," keluhnya.
Untuk menepis keraguan itu, Laily pun melakukan pembuktian. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perbaikan dan perubahan di perusahaan Taman Wisata Candi. Tak jarang dia aktif melakukan komunikasi dengan berbagai pihak.
" Kuncinya komunikasi yang baik dan aktif. Pada awalnya, saya lebih banyak mendengar, menemui pemangku kepentingan. Yang paling penting niat awal untuk bekerja dan melakukan perbaikan. Jika dilihat saya sudah melakukan sebaik-baiknya maka akan menghapuskan keraguan karena orang menilai berdasarkan perilaku, perilaku yang konsisten," tegas perempuan kelahiran Desember 1985 itu.
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia