Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://merdeka.com)
Dream - Euforia Jokowi Effect tampaknya hanya berlangsung sesaat. Meski masih didominasi penguatan, sejumlah indeks saham acuan yang sempat melompat tinggi di awal perdagangan justru terseret aksi jual jelang penutupan.
Diantara indeks saham acuan yang tergerus itu adalah Jakarta Islamic Index (JII) yang terkoreksi 0,14 persen.
Beruntung aliran masuk dana asing masih bertahan hingga sesi penutupan. Asing menggelontorkan yang tak kurang Rp 745,6 miliar ke pasar modal Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 20 Oktober 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 11,58 poin (0,23%) ke level 5.040,53.
Penutupan IHSG sore ini lebih rendah dari sesi pembukaan dimana indeks menguat 39,63 poin (0,79%) ke level 5.063,58. IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 5.101,21.
Memanfaatkan momentum pelantikan presiden terpilih Joko Widodo, pelaku pasar cukup berani melakukan aksi jual beli saham. Tercatat 53,85 juta saham ditransaksikan pelaku pasar dengan perputaran uang mencapai Rp 7,5 triliun.
Sebanyak 192 emiten di BEI menutup perdagangan di zona hijau. Sementara 127 lainnya tak kuasa menahan aksi jual.
Di saat Jokowi Effect melanda, empat emiten justru tak bisa menikmatinya dengan ceria. Indeks sektor consumer memimpin pelemahan dengan koreksi 1,51 persen, diikuti perkebunan 1,02 persen, dan manufaktur 0,38 persen.
Hal yang sama dialami indeks saham bluechips syariah, JII, yang bergerak melemah 0,95 poin (0,14%) ke level 662,61. Turunnya harga saham emiten komoditas membuat indeks bluechips syariah melemah.
Tercatat 15 emiten bluechips syariah melaju di zona merah sementara 13 lainnya sanggup bertahan di zona hijau. Aksi jual beli bluechips syariah melibatkan 11,85 juta saham dengan nilai Rp 3,38 triliun.
Beruntung Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sore ini masih bisa ditutup di zona hijau meski JII bergerak melemah.
Indeks ISSI sore ini hanya naik 0,17 poin (0,11%) ke level 161,78. Padahal ISSI sempat menyentuh level tertinggi 163,85 usai dibuka menguat 1,14 poin (0,71%) ke level 162,75.
Sebanyak 109 emiten syariah berhasil menjaga ISSI bertahan di zona hijau. Namun tekanan jual dari 84 emiten syariah memangkas laju kenaikan ISSI.
Dari kawasan Asia, seluruh indeks saham utama bergerak di zona hijau. Lompatan Nikkei Jepang masih bertahan hingga sesi penutupan dengan menguat 3,98 persen, diikuti Kospi Korea Selatan 1,55 persen, dan Hang Seng 0,2 persen.
Pasar keuangan juga bergerak ceria di awal pekan ini. Kurs rupiah sore ini bertengger di 12.024 per dolar AS atau menguat 85 poin (0,7%). Rupiah sempat menyentuh posisi terkuatnya di 11.980 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya