Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pada bulan Juni 2014, terjadi kenaikan harga barang kebutuhan pokok (inflasi) sebesar 0,43 persen. Inflasi ini terjadi karena didorong beberapa bahan pangan.
Berdasarkan data BPS yang dikutip, Selasa, 1 Juli 2014, kelompok bahan makanan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,19 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga paling tinggi adalah daging ayam yang harganya naik sebesar 0,06 persen, bawang merah 0,05 persen, telur ayam 0,04 persen, tomat dan bawang putih yang harganya naik 0,02 persen, serta beras yang mengalami kenaikan harga 0,01 persen.
Namun, ada juga bahan pangan yang mengalami penurunan harga seperti cabe rawit yang turun 0,03 persen, cabai merah turun 0,02%, dan ikan segar yang mengalami penurunan 0,01 persen.
Selain itu, rokok kretek dan rokok kretek filter juga mengalami kenaikan harga sebesar 0,01 persen sehingga menyumbang inflasi sebesar 0,06% terhadap inflasi bulan Juni ini.
Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang diberlakukan per Mei 2014 dan mulai dibayarkan pada Juni 2014 juga memberikan dampak terhadap kemampuan daya beli masyarakat.
Jika dibandingkan inflasi Juni dalam empat tahun belakang, inflasi Juni 2014 tercatat paling rendah. Kepala BPS Suryamin menyebutkan pada 2011 inflasi Juni mencapai 0,55 persen, kemudian pada 2012 bahkan melonjak pada 0,62 persen.
Suryamin menilai rendahnya inflasi jelang Ramadan menandakan pemerintah berhasil mengendalikan pangan bergejolak. Inflasi tahun kalender sebesar 1,99 persen. Kemudian inflasi tahun ke tahun mencapai 6,7 persen, dan inflasi komponen inti berada pada level 0,25 persen.
Dari 82 kota yang disurvei BPS, 76 kota mengalami inflasi, sedangkan 6 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi dialami Ternate sebesar 1,29 persen, sementara inflasi terendah di Tual 0,06 persen. Deflasi tertinggi dialami Maumere 0,72 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Pematang siantar yaitu sebesar 0,09 persen. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya