Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Bursa Saham Timur Tengah
Dream - Negara-negara di kawasan Timur Tengah bakal makin kaya seiring akan masuknya investasi yang lebih besar dan beragam dari berbagai pemodal internasional. Pemicunya, rencana Arab Saudi yang akan memperkenankan pemodal asing masuk bursa saham lokal.
Pembukaan bursa saham Arab Saudi kepada investor internasional diyakini akan menggadakan jumlah uang asing yang mengalir ke pasar sekuritas Teluk. Tidak hanya Saudi, pasar Teluk lainnya juga akan kecipratan kucuran dana asing karena merupakan pasar yang terbesar di dunia Arab.
Dikutip Dream dari laporan Arabianbusiness, Sabtu, 16 Agustus 2014, bursa saham Saudi tercatat memiliki modal sekitar US$ 550 miliar. Kira-kira setara dengan seluruh pasar Teluk. Bursa Saudi juga menyumbang sekitar dua pertiga dari omzet perdagangan saham di kawasan itu.
Sayangnya, terbatasnya likuiditas telah lama menjadi keluhan investor asing saat berinvestasi di wilayah itu.
Rencana pembukaan pasar saham Saudi bagi pemodal asing juga membawa keuntungan lain khususnya bagi perusahaan, yang belum tentu bisa ditemui di kawasan Teluk lainnya. Arab Saudi banyak memiliki perusahaan ritel, produsen makanan dan manajemen rumah sakit yang semuanya dikelola oleh swasta.
Berbeda dengan kawasan teluk lainnya yang selalu berorientasi pada perusahaan real esate, perbankan dan perusahaan milik negara.
Di tengah kabar gembira ini, negara-negara teluk juga harus tetap waspada karena serbuan dana asing akan semakin memicu munculnya risiko baru.
Saudi juga berisiko menunda pelaksanaan reformasi investasi. Masuknya dana asing dapat menggoyahkan pasar domestik, sebagian dengan mendorong investor lokal menawar harga saham pada tingkat yang tidak berkelanjutan di masa depan.
Hal ini akan mengakibatkan ketidakstabilan pasar global dengan cara yang belum pernah dialami Arab Saudi. Sebelumnya, kenaikan suku bunga dolar Amerika atau crash di pasar dunia berkembang mempunyai pengaruh yang kecil di pasar Arab Saudi. Namun dengan pembukaan bursa, peristiwa-peristiwa ekonomi global dapat memicu penarikan dana secara besar-besaran oleh investor asing.
Regulator di Arab Saudi cenderung memberikan lisensi investasi secara bertahap untuk menghindari tak stabilnya pasar. Riyadh nampaknya akan mengadopsi kerangka investasi yang mirip dengan yang yang diperkenalkan China pada satu dekade yang lalu. Mereka memperluas partisipasi asing di pasar lokal melalui langkah-langkah tambahan.
Sumber risiko lainnya adalah sensitivitas pertumbuhan pasar Teluk terhadap pergerakan di luar negeri. Misalnya, Arab Saudi membuka bursa sahamnya saat suku bunga AS diperkirakan akan mulai naik setelah bertahun-tahun berada pada tingkat terendah. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya