Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pertumbuhan Keuangan Syariah Belum Menandingi Keuangan Konvensional.
Dream – Perkembangan keuangan syariah di Indonesia telah membuahkan prestasi, seperti produk yang semakin banyak dan infrastruktur yang mendukung keuangan syariah. Di pasar global, Indonesia bahkan termasuk dalam top ten negara yang memiliki indeks keuangan syariah terbesar di dunia.
Meski demikian, pertumbuhan keuangan syariah di Tanah Air belum mampu mengimbangi pertumbuhan keuangan konvensional.
Dikutip dari buku Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah Indonesia, Rabu 14 Juni 2017, hal ini terlihat dari market share (pangsa pasar) keuangan syariah yang masih rendah, yaitu 5 persen walaupun ada beberapa produk keuangan syariah yang memiliki pangsa pasar di atas 5 persen.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2017, total aset keuangan syariah di Indonesia (tidak termasuk saham syariah), mencapai Rp967,9 triliun dan didominasi oleh perbankan syariah yang hampir mencapai 50 persen.
Ada beberapa produk keuangan syariah yang pangsa pasarnya lebih dari 5 persen, yaitu perbankan syariah 5,29 persen, pembiayaan syariah 7,27 persen, dan sukuk negara 16,96 persen.
Angka-angka di atas menunjukkan keuangan syariah masih perlu dikembangkan sehingga bisa mengimbangi pertumbuhan keuangan konvensional.
Yang perlu dilakukan untuk mengakselerasi pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia adalah melakukan beberapa program yang bisa menyelesaikan berbagai permasalahan lintas sektor. Permasalahan-permasalahan yang dimaksud misalnya keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan akses produk keuangan syariah, dan keterbatasan suplai produk keuangan syariah.
Untuk itu, peta jalan pengembangan keuangan syariah ini memiliki visi untuk mewujudkan industri jasa keuangan syariah yang tumbuh dan berkelanjutan dan berkeadilan serta berkontribusi bagi perekonomian nasional dan stabilitas sitstem keuangan menuju terwujudnya Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia.
Misi utama roadmap periode 2017-2019 ini meningkatkan kapasitas kelembagaan dan ketersediaan produk industri keuangan syariah yang lebih kompetitif dan efisien, memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan inklusi produk keuangan syariah dan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya