Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream – Kalangan orang superkaya menginginkan investasi yang lebih banyak belakangan ini. Mereka juga menginginkan uang mereka bisa digunakan untuk kegiatan positif di dunia.
Namun, instrumen yang bisa memberikan kedua manfaat ini masih kurang.
Dilansir dari CNBC, Selasa 24 April 2018, UBS, bank pengelola kekayaan terbesar secara global, mengatakan masyarakat dunia selama ini mengenal istilah investasi berkelanjutan. Istilah ini merujuk kepada instrumen investasi yang tak hanya bertujuan laba tapi juga memberikan kebaikan untuk masyarakat banyak.
Sayangnya niat mulia produk investasi yang bertanggung jawab terhadap masyarakat ini masih relatif sedikit. Kalaupun ada tak sesuai dengan kemauan investor. Sebab, ada saja produk investasi yang menempatkan dana di sektor yang tidak diinginkan.
“ Mungkin Anda tak ingin berinvestasi dalam tembakau, senjata api, dan alkohol,” kata Chief Investment Officer UBS untuk orang yang super kaya, Simon Siles.
Alih-alih menghindari perusahaan “ buruk” dan hanya berinvestasi di perusahaan dengan peringkat kredit yang baik, Siles mengatakan investor ingin portofolionya mencerminkan apa yang mereka yakini.
Misalnya, investor ingin menjadi bagian dalam mendorong pembangunan global dan memilih surat utang yang diterbitkan oleh lembaga seperti World Bank dan Asia Development Bank. Investor juga bersemangat tentang surat utang yang hasilnya digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan.
“ Sebagian besar peluang di industri fokus pada ekuitas, pendanaan, dan ETF tertentu daripada memikirkan konteks portofolio,” kata dia.
Ketidaksesuaian produk investasi berkelanjutan dengan apa yang diinginkan investor membuat penanam modal membuat proporsi yang kecil untuk investasi berkelanjutan di portofolio investasi.
Meskipun demikian, investasi berkelanjutan ini tumbuh 25 persen dari US$22,89 triliun (Rp264.028 triliun) pada 2014 menjadi US$26,3 triliun (Rp367.404 triliun) pada 2016.
Pada saat yang sama, kata Siles, orang super kaya masih memegang uang tunai dalam jumlah yang besar.
Mereka setidaknya memiliki uang sebesar US$30 juta (Rp419,09 miliar) dalam aset yang bisa diinvestasikan. Ada 35 persen orang ultra kaya yang menginvestasikan dananya ke uang tunai. Siles menyarankan investor untuk menanamkan modalnya ke investasi berkelanjutan.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya