Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Harus diakui penerimaan perpajakan tahun 2015 jauh dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Realisasi penerimaan perpajakan hanya Rp 1.235,8 triliun atau 83% dari target Rp 1.489,3 triliun.
Sedangkan penerimaan pajak hanya terealisasi sebesar Rp 1.056 triliun dari target yang ditetapkan sesuai APBN-P 2015 sebesar Rp 1.294 triliun. Hal ini disebabkan anjloknya penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Migas. Dari penerimaan PPh Migas tahun 2014 sebesar Rp 87,45 triliun merosot 43,14% menjadi hanya Rp 49,72 triliun.
Dalam keterangan pers Ditjen Pajak, Senin, 11 Januari 2016, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan pertumbuhan negatif penerimaan PPh Migas seiring dengan merosotnya harga minyak mentah dunia serta lifting minyak mentah dan gas Indonesia.
Rendahnya penerimaan pajak ini, lanjut Bambang, juga ditunjang adanya kebijakan pemerintah (Paket Kebijakan Ekonomi V) yang memberikan fasilitas pengurangan tarif pajak bagi wajib pajak yang melakukan Revaluasi Aktiva Tetap. Pajak yang diperoleh dari kebijakan Revaluasi Aktiva Tetap adalah sebesar Rp20,14 triliun.
Namun, realisasi penerimaan pajak secara kesuluruhan tetap mengalami pertumbuhan dibanding penerimaan pajak tahun lalu. Total pertumbuhan penerimaan pajak adalah 7.15%, angka ini lebih tinggi dibanding tahun 2014 yang mencapai 6.92%. Pada tahun 2015 ini pula, untuk pertama kalinya penerimaan pajak tembus Rp1.000 triliun.
Kemudian, jelas Bambang, jika dibandingkan dengan realisasi belanja negara sebesar Rp 1.810 triliun, maka realisasi defisit anggaran tahun 2015 mencapai Rp318,50 triliun atau 2.80% dari PDB. Defisit ini terbilang rendah jika dibandingkan negara lain.
Dengan memperhatikan kondisi ekonomi makro yang memang mengalami perlambatan, lanjut Bambang, maka peningkatan penerimaan pajak merupakan satu hal yang patut untuk diapreasiasi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya