7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Pendemo Menyuarakan Aksi Boikot Israel (Sumber: Www.theguardian.co.uk)
Dream - Kampanye global untuk memboikot produk-produk dari perusahaan pro-Israel mendapatkan momentum setelah agresi brutal negara Zionis di Gaza. Kabar terbaru, konsumen di Arab Saudi juga melakukan aksi yang ramai dilakukan beberapa negara muslim.
Pembeli di Arab Saudi dan negara-negara lain ramai-ramai menghindari produk yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan pro-Israel.
Banyak yang percaya boikot adalah cara yang paling efektif untuk menghadapi Israel dan para pendukungnya. Cara itu muncul setelah Dewan Keamanan PBB dan kekuatan dunia lainnya gagal menghentikan pembantaian warga Gaza meskipun muncul protes di seluruh dunia.
Peraturan tentang usaha di Saudi tidak mengizinkan setiap perusahaan untuk mengimpor produk-produk Israel, atau melakukan urusan bisnis atau perjanjian dengan perusahaan atau organisasi di negara Zionis. Peraturan juga menyerukan boikot terhadap produk yang bagian-bagiannya diproduksi di Israel.
Badr Almotawa, seorang analis bisnis, menyerukan memboikot produk Israel dan pendukungnya di AS dan Inggris. " Kami memboikot produk mereka untuk mengirim pesan bahwa mereka akan kehilangan bisnis kami jika mereka mendukung Israel untuk membunuh rakyat Palestina," kata dia seperti dikutip dari laman Arabnews, Minggu, 17 Agustus 2014.
Menurut Badr, banyak orang di Saudi telah memutuskan untuk memboikot produk-produk dari perusahaan pro-Israel. " Ini sangat penting. Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) telah menyarankan warga di negara-negara anggota mereka untuk memboikot produk-produk Israel," jelasnya.
Aksi boikot Saudi ini memang tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi berkaca dari dampak yang dialami Belanda setelah Raja Abdullah memboikot perusahaan-perusahaan Belanda akibat aksi politisi sayap kanan yang menghina Islam dan bendera Saudi. " Boikot itu masih berlangsung. Arab Saudi telah menolak untuk bertemu dengan menteri luar negeri Belanda dalam masalah ini," katanya.
Hugh Lanning, ketua Kampanye Solidaritas Palestina yang berbasis di London, baru-baru ini mengatakan kepada The International Business Times bahwa ia melihat tanda-tanda bahwa kampanye boikot itu menjadi gerakan mainstream.
" Kami melihat orang-orang cemas. Individu yang telah marah dengan apa yang telah mereka lihat ingin melakukan protes dengan cara mereka. Boikot dilihat sebagai cara efektif bagi orang-orang biasa," katanya.
Starbucks, raksasa kopi yang berbasis di Seattle, merasa mendapat begitu banyak tekanan dengan munculnya boikot selama akhir pekan. Pendiri perusahaan, Howard Schultz, membantah laporan bahwa ia menyumbangkan uang kepada tentara Israel.
Beberapa perusahaan yang melakukan bisnis dengan Israel meluncurkan kampanye penolakan dengan memangkas harga produk mereka untuk merayu konsumen di Saudi. " Saya melihat beberapa merek populer Amerika menawarkan diskon besar. Ini menunjukkan mereka merasa tertekan," kata Muhsinah, seorang penduduk asal India.
Di Kerala, India Selatan, sejumlah organisasi telah mengambil keputusan bersama untuk memboikot produk-produk Israel dan pendukungnya. Di Mumbai, surat kabar India " The Hindu" melaporkan pada akhir Juli bahwa lebih dari 1.000 hotel di kota itu bergabung untuk memboikot Coca-Cola, Pepsi dan produk lainnya.
Harian Turki Zaman melaporkan bahwa Istanbul dan sejumlah kota-kota kecil telah mendesak warga untuk tidak membeli produk yang dibuat di Israel atau yang memiliki hubungan dengan Israel, seperti Coca-Cola. Sementara itu, Malaysia telah melancarkan kampanye boikot terhadap McDonald. Negeri Jiran menuduhnya mendukung upaya perang Israel. (Ism)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?