Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Pekerja Asing Di Arab Saudi
Dream - Para pencari kerja asal Indonesia yang ingin mencari penghasilan lebih baik di Arab Saudi harus berjuang keras. Pemicunya, pemerintah Saudi kini tengah menggalakkan program nasionalisasi pekerja di wilayah-wilayah kuning.
Wilayah Kuning (Yellow Zone) merujuk pada perusahaan swasta baik lokal maupun internasional, yang mempekerjakan pegawai lokal kurang dari 10 persen.
Kabar terbaru menyebutkan pegawai asing yang lahir di Saudi juga akan dikenakan ketentuan nasionalisasi itu.
Lewat kebijakan Nitaqat, masa tinggal pegawai asing nantinya dipangkas hanya menjadi dua tahun mulai Mei 2015.
Kebijakan baru Saudi ini mendapat tantangan dari para pelaku usaha yang tergabung dalam Kadin Jeddah. Pembatasan masa tinggal kemungkinan sulit diterapkan pada perusahaan yang bergerak di bidang industri, konstruksi, dan jasa.
Ketiga sektor itu diakui masih sangat tergantung pada tenaga kerja terlatih dan berpengalaman dari luar negeri.
" Ada beberapa sektor yang tak bisa beralih ke zona hijau karena ketergantungan yang tinggi pada pegawai terlatih dan ahli," kata Anggota Kadin Jeddah, Ahmad Al-Marbaie seperti dikutip Dream dari laman Arabnews, Kamis, 14 Agustus 2014.
Dijelaskannya, pabrik-pabrik tak bisa begitu saja memberhentikan pekerjanya yang telah lama dilatih dan digantikan dengan pegawai lokal.
" Kondisi ini bakal jadi kerugian sejak sulitnya mencari pegawai terlatih dan bernilai tinggi di negara lain. Kebijakan ini akan berdampak pada produktivitas, keuntungan dan kinerja perusahaan," ujar Am-Marbie. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya