Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Hati-hati Dalam Berinvestasi, Jangan Sampai Terkena Investasi Bodong.
LAGI DIUBAH ANGLE DULU GUYS!!!!!
Dream – Ada banyak jalan menuju Roma. Peribahasa ini sama halnya dengan memupuk kekayaan. Menabung bukanlah satu-satunya cara untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.
Ada cara lain untuk mengumpulkan uang, yaitu investasi.
Dengan investasi, uang yang “ ditanam” di instrumen-instrumen keuangan, seperti emas, saham, dan reksa dana akan tumbuh. Kenaikan jumlah uang ini berasal dari marjin keuntungan yang didapat dari investasi.
Tapi, berhati-hati, ya, ketika hendak berinvestasi. Jangan sampai menanamkan modal di investasi bodong yang mengiming-imingi keuntungan yang lebih tinggi, namun tidak jelas. Begitu pula dengan produk investasi yang dijual juga tidak jelas.
Salah satunya adalah promo umroh murah First Travel. Kasus ini membetot perhatian banyak orang sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan program umroh murah First Travel karena terindikasi sebagai investasi ilegal dan ada penghimpunan dana masyarakat tanpa izin, lalu Kementerian Agama mencabut izin First Travel. Kegiatan ini membuat ratusan miliar rupiah uang jemaah menguap dan belasan ribu jemaah gagal berangkat umroh.
Aparat hukum juga mencium ada kegiatan investasi ilegal yang dilakukan oleh biro umroh yang didirikan oleh Andika Surrachman dan Anniesa Hasibuan. Akhirnya, Bareskrim Polri menetapkan pasangan suami-istri ini sebagai tersangka penipuan dan penggelapan dana jemaah.
Selain First Travel, ada juga, lho, investasi bodong yang sempat menggegerkan publik. Sebut saja Koperasi Langit Biru dan Pandawa Lima. Simak penjelasannya berikut, dikutip dari berbagai sumber, Kamis 5 Oktober 2017.
© Dream
Siapa yang tak kenal dengan Koperasi Langit Biru (KLB)? Kasus investasi bodong KLB ini mencuat ke publik pada tahun 2012 setelah ada laporan nasabah ke polisi tentang macetnya bonus investasi yang ditawarkan oleh KLB.
KLB atau PT Transindo Jaya Komara ini didirikan oleh Jaya Komara pada 2011. Perusahaan ini bergerak di bidang pengelolaan daging sapi dengan puluhan pemasok daging sapi, pemotongan, dan pendistribusian daging sapi. Jaya yang memiliki pemikiran ingin mensejahterakan masyarakat, mulai mengembangkan usahanya dengan melibatkan masyarakat luas.
Dia pun mencari investor dengan menawarkan dua paket investasi, yaitu investasi paket kecil senilai Rp385 ribu atau setara dengan 5 kg daging sapi dan investasi paket besar dengan nilai Rp9,2 juta atau setara dengan 100 kg daging sapi. Investasi paket kecil ini menawarkan keuntungan sebesar Rp150 ribu per bulan, sedangkan paket besar sebesar Rp1,7 juta-Rp12 juta per bulan. Keuntungan yang ditawarkan kepada nasabah sebesar 17-30 persen.
Dengan cara ini, Jaya berhasil menghimpun dana sebesar Rp6 triliun dari 125 ribu anggota. KLB menjanjikan dana investasi ini akan diputar untuk menjalankan bisnis di daerah Tulung Agung, Jawa Timur. Sayangnya, aktivitas penyerahan bonus ini macet pada bulan Januari 2012 sehingga investor mengadukan masalah ini ke polisi.
© Dream
Pada 2016, OJK menghentikan kegiatan operasional Pandawa Grup karena mereka menghimpun dana dari masyarakat dan melanggar Undang-Undang Perbankan. Pandawa Grup ini juga menawarkan investasi dengan keuntungan yang cukup tinggi, yaitu 10 persen. Masyarakat yang sudah menyimpan dana di Pandawa Grup ini sebanyak 1.000 orang dengan dana yang dihimpun sebesar Rp500 miliar.
OJK juga sudah memanggil pendiri Pandawa Mandiri Grup, Salman Nuryanto yang juga merupakan pengurus Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Grup.
Terindikasi investasi bodong, Salman dan tiga rekannya, Madamine, Tatto, dan Subardi, diringkus polisi pada Februari 2017, diringkus oleh jajaran Polda Metro Jaya. Mereka ditangkap di daerah Mauk Tangerang. Polisi menyebut Salman kerap lolos dalam penangkapan. Jumlah tersangka yang diciduk polisi bertambah 19 orang.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok juga turut angkat suara tentang kasus Pandawa Grup. Pandawa Grup ini dinyatakan haram karena menggunakan akad yang fasik. Akad ini mengandung unsur riba, tidak transparan, dan rawan penipuan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya