Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Investasi Jadi Salah Satu Cara Untuk Menjadi Kaya.
Dream – Banyak jalan menuju Roma, begitu pula dengan cara menuju kekayaan. Ada beragam cara yang bisa ditempuh seseorang supaya menjadi kaya-raya.
Ada yang ingin menjadi kaya dengan menabung. Ada yang menjual aset atau barang-barangnya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Cara yang lebih maju adalah dengan berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan.
Berbicara tentang investasi, ada beragam produk keuangan yang bisa digunakan untuk menanam duit. Sebut saja emas, deposito, saham, sukuk, reksa dana, dan properti. Setiap produk ini punya beragam risiko. Ada yang keuntungan tinggi, tapi risiko juga tinggi. Ada pula yang memberikan keuntungan yang rendah, tapi risikonya juga rendah.
Untuk pemula, tidak heran mereka kebingungan memilih produk investasi ketika pertama kali menjajal berinvestasi.
Senior Executive Vice President Retail Banking PT Bank Syariah Mandiri (BSM), Niken Andonowarih, mengatakan produk investasi yang tepat bagi pemula adalah emas.
“ Menurut saya, investasi yang paling pas itu, ya, emas,” kata Niken di Jakarta, ditulis Kamis 23 Februari 2017.
Dia mengatakan besar dana yang dikeluarkan untuk berinvestasi di emas tidak sebesar berinvestasi di produk lainnya, seperti properti. Niken berkata ada seorang investor yang ingin berinvestasi di properti dan ingin membeli rumah seharga Rp400 juta. Dengan uang muka 20 persen, orang itu harus menyiapkan dana sebesar Rp40 juta.
“ Belum tentu saya eligible untuk membeli rumah seharga Rp400 juta,” kata dia.
Selain itu, keuntungan lainnya berinvestasi di emas adalah likuiditasnya paling tinggi. Dikatakan bahwa emas bisa dijual kapan pun sesuai dengan kebutuhannya.
“ Kalau dijual di toko emas, sudah tentu diterima,” kata dia.
Lain halnya dengan likuiditas di properti. Niken mengatakan belum tentu properti yang dimiliki seseorang bisa terjual dalam waktu singkat. Tidak hanya itu, membelinya pun juga tidak gampang.
Jika dibandingkan dengan saham, risiko nilai pada emas relatif terjaga. Meskipun ada pengaruh inflasi, risiko turun nilai tidak separah saham. Harga saham fluktuatif dan bisa berpengaruh terhadap nilai investasi.
“ Saham itu fluktuatif. Apakah saham bagus? Saham bagus, tapi ini berisiko. Kalau harganya turun, nilai investasinya jeblok,” kata dia.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya