Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.
Dream – Di dunia karier, wanita punya hak yang sama dengan pria untuk meniti karier. Wanita karier berhak mendapatkan apresiasi, kenaikan gaji, dan promosi kedudukan yang lebih tinggi.
Namun, ada satu hal yang menjadi tantangan utama wanita karier, keluarga.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, pada dasarnya, wanita lebih pintar secara akademis daripada pria. Jumlah lulusan pria dan wanita juga hampir sama.
Namun, ketika masuk dunia kerja, usia karier wanita bisa jadi lebih pendek daripada lelaki.
“ Lima tahun pertama, para wanita dapat bertahan, tapi ketika memasuki lima tahun berikutnya, perempuan harus menghadapi pilihan sulit antara keluarga atau melanjutkan karier,” kata Sri Mulyani ketika menjadi pembicara dalam acara “ GE Women’s Network Luncheon” di Jakarta, dikutip dari akun Instagramnya, @smindrawati, Jumat, 21 April 2017.
Dengan begitu, kata dia, semakin tinggi pilihan karier bagi seorang wanita akan semakin banyak pula yang memutuskan untuk berhenti bekerja.
Selain itu, Sri Mulyani juga juga meminta wanita karier untuk membangun komunitas dan jaringan sejak awal berkarier. Dengan jaringan yang kuat, peluang mereka dipromosikan pun semakin kuat.
“ Anda tidak bisa meminta kesetaraan untuk tingkat menengah dan tinggi, kecuali jika Anda benar-benar memiliki jaringan yang kuat sejak dari awal karier,” kata dia.
Mantan pejabat Bank Dunia ini pun juga menyinggung masalah kesetaraan gender. Menurt dia, kesetaraan ini sudah lebih baik sejak 10 tahun yang lalu. Contohnya, sudah ada tempat menyusui dan tempat penitipan anak di area perkantoran, seperti di Kementerian Keuangan.
“ Hal ini sepertinya merupakan hal yang kecil, tapi sangat berarti. Perempuan yang bekerja tidak boleh disalahkan ketika mereka hamil dan melahirkan bayi, bahkan mereka layak mendapatkan bonus,” kata dia.(Sah)
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?