Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Lembaga Sensor Film (LSF) menghadapi tantangan dalam menjalankan sensor film yang disiarkan televisi luar negeri. Ini lantaran film yang ditayangkan minim sensor.
Ketua Komisi III LSF Muklis Paeni mengatakan siaran televisi asing kebanyakan ditangkap dengan bebas di daerah-daerah perbatasan. Butuh proses sensor yang ketat agar televisi asing tidak sembarangan dalam menayangkan film.
" Daerah-daerah yang berbatasan dengan luar negeri seperti Kepulauan Riau, lebih banyak mendapatkan siaran dari luar ketimbang film dalam negeri," ujar Mukhlis di Majene, Sulawesi Barat, Kamis, 20 April 2017.
Mukhlis menegaskan semua jenis film baik yang diputar di bioskop maupun ditayangkan stasiun televisi harus memenuhi syarat lulus sensor.
" Apapun yang tayang di layar lebar maupun di tv yang dari pagi sampai malam, itu kita sensor. Jumlahnya sangat banyak, tidak menentu," ucap Mukhlis.
Dalam kesempatan sama, Anggota LSF, Syamsul Lusa, mengatakan kebanyakan film yang disensor pihaknya merupakan produksi asing. Meski ada film Indonesia, kata Mukhlis, jumlahnya tidak banyak.
" Dalam setahun, Amerika rata-rata bisa membuat 600 film. Sedangkan Indonesia hanya 120 film," ucap Syamsul.
Padahal, kata dia, film merupakan alat yang efektif untuk menyebarkan kebudayaan. Dia memberikan contoh seperti film Korea Selatan.
" Seperti Korea Selatan yang membentuk gelombang Hallyu untuk menjual produk-produknya mulai dari fashion-nya hingga makanan-makanannya," kata Syamsul.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya