Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bursa saham Indonesia terjungkal. Koreksi tajam yang melanda sejumlah indeks acuan saham dipicu kepanikan pemodal asing yang menarik portofolionya dari pasar modal domestik.
Aksi jual ini muncul akibat spekulasi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan BI Rate setelah kenaikan laju inflasi bulanan pada Mei 2015.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 3 Juni 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terhempas 2,020 poin (1,21%) ke level 165,417.
Di awal perdagangan, indeks ISSI sebetulnya sempat menyentuh zona hijau. Namun tekanan jual yang semakin besar oleh pemodal asing memaksa ISSI tak kuasa lepas dari pelemahan.
Terlebih lagi, 124 emiten syariah dilanda aksi jual pelaku pasar. Kenaikan harga saham yang dicetak 51 emiten syariah seolah tak berdaya menahan penurunan ISSI.
Transaksi perdagangan saham syariah mencapai Rp 3,71 triliun dengan 42,53 miliar saham menjadi objek jual beli.
Pukulan telak juga dialami saham-saham bluechips syariah. Pelemahan yang melanda 20 emiten unggulan syariah membuat Jakarta Islamic Index (JII) terhempas 8,257 poin (1,18%) ke level 692,396.
Sama dengan ISSI, indeks JII juga sempat menyentuh teritori positif di awal sesi perdagangan. JII menyentuh level tertinggi di 700,986 dan terendah di 689,725.
Indeks JII meninggalkan 9 emitennya di zona hijau dengan top gainer dihuni oleh UNTR yang naik Rp 1.025 per saham. Penghuni top gainer lainnya adalah AALI yang naik Rp 575, UNVR Rp 400, WIKA Rp 75, dan LPPF Rp 50 per saham.
Melemahnya dua indeks acuan saham syariah ini sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga terhempas ke zona merah.
IHSG ditutup melemah 83,317 poin (1,60%) ke level 5.130,499.
Lantai bursa mencetak nilai transaksi signifikan hingga Rp 8,18 triliun. Pemodal cukup aktif melakukan transaksi dengan 86,64 miliar saham yang berpindahtangan.
Sayangnya, nilai transaksi itu harus ditebus dengan aksi jual asing yang melonjak signifikan. Asing mencetak nett sell Rp 521,61 miliar, naik tinggi dibandingkan penutupan di awal pekan kemarin.
Dari pasar keuangan, tekanan juga dialami rupiah. Kurs rupiah sore ini bertengger di level 13.213 per dolar AS, terdepresiasi 3 poin (0,02%).
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya