Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi
Dream - Istilah tidak semua bisa dibeli dengan uang, tampaknya tidak berlaku untuk saat ini. Pasalnya, sebuah survei melaporkan di negara dengan pendapatan yang tinggi maka masyarakatnya memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi pula.
Seperti yang dilaporkan survei Global Pew Research Centre yang dikutip dari Gulf News, Sabtu, 1 November 2014, negara-negara kaya seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris menduduki puncak daftar negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi. Hal ini menunjukkan pendapatan nasional berkaitan erat dengan kepuasan pribadi.
Lembaga survei ini melakukan riset terhadap penduduk di 43 negara yang mewakili tingkat kehidupan terbaik dan terburuk. Survei ini pernah juga dilakukan pada tahun 2002 dan tahun 2005. Tujuannya, agar terlihat tren dari waktu ke waktu.
Namun, data tersebut juga mengakui adanya faktor lain dalam mendapatkan kebahagiaan selain uang. Sebagai contoh, Malaysia mendapatkan nilai kebahagian pada level 56 persen. Sementara, Jerman yang memiliki pendapatan nasional bruto jauh lebih besar dari Malaysia mendapatkan tingkat kebahagiaan pada level 60 persen, hanya terkait 4 persen dari Malaysia.
Survei juga menunjukkan uang memang bukan faktor satu-satunya dalam mencapai kebahagiaan. Seperti perempuan cenderung lebih bahagia dibandingkan pria, orang yang belum menikah dan setengah baya lebih bahagia dibandingkan orang yang telah menikah dan masih muda.
Orang-orang Asia juga mengalami kenaikan dalam tingkat kepuasan dalam lima tahun terakhir. Hal ini karena adanya mereka memiliki pengharapan yang besar mengenai masa depan. Mayoritas orang Bangladesh, Thailand, Indonesia, China, Filipina, dan India mengharapkan hidup yang meningkat dibandingkan saat ini pada 5 tahun ke depan.
Sementara itu, orang Yordania, Mesir, dan Tunisia merupakan masyarakat yang paling tidak puas dan pesimis terhadap masa depan di kalangan negara-negara berkembang. Menurut peneliti, hal ini disebabkan adanya gejolak politik dan sosial di wilayah ini.
Survei ini juga menunjukkan 8 dari 14 negara berkembang menunjukkan kenaikan tangga hidup, seperti terjadi di Indonesia, China, Pakistan, Malaysia, dan Rusia.
Survei ini menanyakan para responden mengenai kepemilikan barang-barang seperti televisi, kulkas, mesin cuci, microwave oven, komputer, mobil, sepeda, sepeda motor, dan radio. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam