7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Dream - Lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poor's memperkirakan lesunya penerbitan surat utang syariah (sukuk) global masih akan berlanjut hingga tahun ini. Standard&Poor's memprediksi volume penerbitan sukuk turun menjadi US$50 miliar-US$55 miliar atau sekitar Rp664,12 triliun-Rp730,53 triliun.
Bekurangnya penerbitan sukuk global ini lantaran rendahnya harga minyak dunia yang memukul perekonomian negara-negara muslim.
" Jika harga minyak dunia kembali melemah, beberapa negara pengekspor minyak seperti Kawasan Negara Teluk dan Malaysia tak punya pilihan lain selain mengurangi investasi sehingga bisa menekan kebutuhan pembiayanan dan berpotensi mengurangi penerbitan emisi," kata Credit Analyst and Global Head of Islamic Finance at Standard&Poor's, Mohamed Damek, dilansir dari situs Gulf Times, Kamis 12 Maret 2016.
Sekadar informasi, volume sukuk global yang diterbitkan pada tahun 2015 sudah menunjukan penurunan. Chairman International Islamic Financial Market (IIFM), Khalid Hamad, mengatakan penerbitan sukuk tahun 2015 mencapai US$60,6 miliar atau Rp804,91 triliun. Angka ini turun 43 persen dari tahun 2014.
Penurunan sukuk ini disebabkan oleh penurunan harga minyak dunia dan keputusan Malaysia untuk tidak melanjutkan penerbitan sukuk berjangka pendek.
" Penurunan penerbitan sukuk ini tidak bisa dilihat sebagai pasar sukuk yang melemah, tapi perubahan strategi Malaysia," kata dia.
Khalid mengatakan jika Malaysia tetap melanjutkan penerbitan sukuk berjangka pendek, volume sukuk global bisa mencapai US$100 miliar pada 2015 atau Rp1.328,25 triliun. Dengan begitu, volume sukuk mendekati volume tahun 2014 yang sebesar US$110 miliar atau Rp1.461 triliun.
Hal ini menunjukkan pasar sukuk relatif stabil dan tetap aktif diterbitkan oleh beberapa pihak, seperti perusahaan pembangkit listrik dan lembaga pembiayaan syariah, Islamic Development Bank (IDB).
" Kami tidak mengabaikan prinsip-prinsip yang membedakan sukuk dengan obligasi konvensional. Sukuk adalah cara inovatif untuk meningkatkan pembiayaan syariah dan kaitannya erat dengan ekonomi riil," kata dia.
Sekadar catatan, 74 persen sukuk dari sukuk global, berasal dari Asia Tenggara, sementara 22 persen berasal dari Negara-negara Teluk. Dilihat dari negaranya, Malaysia tetap memegang negara penerbit sukuk terbanyak. Negeri Jiran itu memegang pasar sebesar 93 persen dan diikuti oleh Arab Saudi 17 persen, Uni Emirat Arab 10 persen, Indonesia 6 persen, Qatar 4 persen, Turki 2 persen, serta Bahrain dan Hong Kong yang masing-masing pasarnya 1 persen.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?