JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia ternyata jumlahnya masih sangat tinggi. Data dari organisasi PBB, UNICEF, menempatkan Indonesia di peringkat 3 dunia terkait jumlah penderita penyakit ini.
Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium Tuberculosis ini memang sangat mudah menular. Melalui cipratan dahak di udara dan masuk melalui pernapasan. Risiko penularan TBC dapat dikurangi jika pasien diobati sampai sembuh.
" Mulailah menggunakan masker walau hanya batuk karena itu akan membuat orang-orang yang terkena TBC tidak berpikir hanya TBC saja yang menggunakan masker," kata Nila Farid Moeloek, Menteri Kesehatan RI di acara Hari Kesehatan Nasional, 22 November 2018.
TBC bukan hanya menurunkan kualitas kesehatan secara fisik, tapi juga berdampak besar terhadap kehidupan sosial dan keuangan baik buat si penderita maupun keluarganya.
Menurut Nila, sebagian orang yang terkena TBC adalah orang-orang yang berada pada usia produktif yaitu 15-54 tahun. Penyakit ini bisa sembuh tapi sayangnya masih banyak penderita yang tak melakukan pengobatan secara tuntas karena terhambat biaya.
" Meskipun diagnosis dan pengobatan TBC gratis, tetapi pasien TBC mengalami kendala biaya untuk transportasi, akomodasi, gizi dan kehilangan pekerjaan karena tidak mampu untuk bekerja lagi. Dengan begitu banyak pasien yang terkena TBC tidak memulai pengobatan maupun berhenti untuk melakukan pengobatan," ungkap Nila.
(Sah, Laporan Ava Haprin)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
