Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dream - Para peneliti menemukan bahwa punya pikiran untuk bunuh diri adalah gejala depresi yang sangat wajar, pada orang yang memiliki gangguan tidur obstruktif atau obstructive sleep apnea (OSA).
OSA sendiri adalah gangguan tidur yang umum yang biasanya menyerang orang beresiko obesitas.
Seperti dikutip dari Gulf News, Selasa, 20 Oktober 2015, para peneliti di University of Western Australia juga menemukan, gejala depresi tersebut akan membaik secara signifikan ketika OSA diobati dengan terapi continuous positive airway pressure (CPAP).
" Pengobatan yang efektif terhadap OSA akan mengurangi gejala depresi secara substansial, termasuk keinginan bunuh diri," kata David Hillman, penulis senior penelitian yang juga profesor klinis di University of Western Australia.
" Temuan ini mengungkapkan potensi OSA, kondisi yang sering tidak terdeteksi, yang sering didiagnosis sebagai depresi," kata Hillman.
Gejala umum OSA termasuk kebiasaan mendengkur, terhentinya napas secara berulang, tidur terganggu, dan kantuk di siang hari yang berlebihan.
Penelitian ini melibatkan 426 pasien yang diduga mengidap OSA. Peserta yang memiliki usia rata-rata 52 tahun itu dirujuk ke rumah sakit tidur pusat untuk dilakukan evaluasi OSA. Dari semua pasien, 293 didiagnosis dengan OSA yang kemudian dilakukan terapi CPAP.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir 73 persen pasien OSA (213 dari 293 pasien) memiliki gejala depresi klinis yang signifikan pada awalnya, dengan prevalensi gejala serupa antara pria dan wanita.
Gejala-gejala ini meningkat secara progresif dan mandiri seiring dengan tingkat keparahan OSA.
Namun, hanya empat persen dari pasien OSA yang menjalani terapi selama tiga bulan yang menunjukkan gejala depresi klinis yang signifikan.
Dari 41 pasien yang patuh menjalani pengobatan yang awalnya memiliki perasaan menyakiti diri sendiri atau mengatakan 'lebih baik mati', tidak satu pun yang masih punya pikiran untuk bunuh diri pada tiga bulan berikutnya.
Menurut peneliti, hasil ini menekankan pentingnya dilakukan skrining terhadap orang dengan gejala depresi yang ditimbulkan OSA.
Temuan Hillman dan timnya telah diterbitkan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine. (Ism)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya