Museum Tsunami Aceh dan Ridwan Kamil

Reporter : Puri Yuanita
Selasa, 29 Desember 2015 18:18
Museum Tsunami Aceh dan Ridwan Kamil
Tahukah Anda? Ternyata, pembangunan museum monumental yang terletak di Banda Aceh ini banyak melibatkan orang Jawa Barat, khususnya Bandung.

Dream - Lorong sempit gelap gulita. Di sisi kiri dan kanannya terdapat air terjun yang mengeluarkan suara gemuruh air, kadang memercik pelan, kadang bergemuruh kencang.

Sesaat suara-suara itu mengingatkan kembali pada kejadian tsunami 26 Januari 2004 silam yang melanda Banda Aceh dan sekitarnya.

Itulah suasana yang akan menyambut Anda saat memasuki " Rumoh Aceh Escape Hill" atau yang lebih dikenal dengan Museum Tsunami Aceh. Museum ini merupakan salah satu situs monumental yang banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Namun tahukah Anda? Ternyata, pembangunan museum yang terletak di Banda Aceh ini banyak melibatkan orang Jawa Barat, khususnya Bandung. Museum Tsunami Aceh merupakan karya besar Ridwan Kamil. Walikota Bandung itulah yang mendesain arsitektur museum ini.

Tapi Kang Emil tak sendiri. Ahli struktur bangunannya, tukang, hingga material seperti batu pualam ternyata juga berasal dari Jabar.

Kang Emil, sang arsitek, merancang museum dengan ruang-ruang yang sarat dengan makna. Salah satunya, ruang yang diberi nama The light of God. Saat memasuki ruangan ini, pengunjung akan dibawa pada sebuah perenungan lebih dalam.

Ruangan ini berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya ke atas sebuah lubang dengan tulisan Arab " Allah" dengan dinding sumur dipenuhi nama para korban.

Ruangan ini dibangun dengan nilai-nilai religi cerminan dari Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah).

Museum Tsunami Aceh yang dibangun di atas areal seluas 10.000 meter persegi ini mengambil ide dasar Rumoh Aceh, rumah tradisional orang Aceh yang berupa rumah panggung.

Lantai pertama museum merupakan ruang terbuka sebagaimana rumah tradisional Aceh, disebut sebagai escape hill, sebuah taman berbentuk bukit yang dapat dijadikan sebagai salah satu antisipasi lokasi penyelamatan seandainya terjadi banjir atau tsunami di masa yang akan datang.

Tempat ini disebut juga the hill of light, karena di tempat yang dipenuhi tiang tersebut pengunjung juga dapat meletakkan karangan bunga mengenang korban tsunami 7 tahun silam.

Tak hanya itu, unsur tradisional lainnya diterjemahkan dalam eksterior bangunan museum. Tarian Saman sebagai cerminan Hablumminannas (konsep hubungan antar manusia dalam Islam) didistilasi ke dalam pola fasade bangunan.

Desain " Rumoh Aceh Escape Hill" karya Ridwan Kamil ini memenangkan sayembara lomba desain Museum Tsunami Aceh tahun 2007 lalu, menyisihkan 68 desain lainnya.

Nah, Anda yang belum mengunjungi Museum Tsunami Aceh, segera masukkan tempat ini ke dalam daftar destinasi liburan Anda.

(Ism, Sumber: esdm.go.id)

Beri Komentar