Ilustrasi
Dream - Lahir di Washington DC, Amerika Serikat. Bryant Moss, pada usia tujuh tahun memulai karirnya sebagai stand-up comedian yang membahas isu-isu seperti rasisme dan prasangka buruk melalui gaya yang unik.
Moss mendapat julukan " Preacher" , karena gaya komedinya yang mirip pendeta gereja keluarganya. Pada 1988, Moss masuk Islam di usia 20. Preacher Moss adalah pendiri grup stand-up comedy 'Allah Made Me Funny'.
Ia melakukan tur ke ratusan kampus dan bermain di berbagai stand-up comedy, demi berdakwah tentang Islam di Amerika. Perjalanan Moss masuk Islam cukup unik. Langkah Moss dalam menuju Islam sedikit banyak dipengaruhi oleh gerakan Islam di Amerika seperti Nation of Islam yang dipimpin oleh Malcolm X.
Tidak hanya, Moss mengaku kehidupan kelam salah satu rekannya yang muslim begitu terpatri dalam hatinya. " Aku melihat bahwa ia memiliki sesuatu. Dia berada di jalan menuju suatu tempat yang besar. Dia tahu sesuatu yang saya tidak tahu," kenang Preacher. " Dan aku sangat ingin tahu lebih banyak tentang jalan itu."
Lamban laun, Preacher mulai mengenal banyak tentang Islam. Terlebih saat dia menimba ilmu di Marquette University di Wisconsin, di mana ia mengambil jurusan jurnalistik dan film.
" Selama kuliah, menjadi seorang muslim sangat sulit karena aku dihadapkan pada konflik batin. Aku harus memikirkan apa yang akan terjadi jika memilih Islam. Itu satu proses yang aku sendiri tidak tahu maknanya," ujarnya sambil menambahkan ia lupa kapan tepatnya mengucapkan syahadat.
Namun dia teringat, memutuskan menjadi mualaf setelah lulus kuliah. Dari sinilah perjalanan Moss sebagai pendakwah Islam dimulai. Setelah lulus, Moss memutuskan menjadi guru sekaligus komedian.
Semakin banyak Moss mempelajari Islam dan berinteraksi dengan sesama muslim, semakin paham bahwa kata-kata Alquran dan Nabi Muhammad benar adanya. Preacher semakin tambah yakin tentang Islam setelah mendapat penjelasan dari orang-orang sekitarnya yang memahami agama Islam dengan baik. Dia menyebutnya sebagai budaya menumbuhkan iman. Konsep inilah yang disebutnya sebagai dasar mendirikan 'Allah Made Me Funny'.
Namun satu hal yang sempat merisaukan Preacher. Beberapa muslim pandai berbicara mengenai nilai-nilai budaya muslim di masa lalu, tapi sangat susah menduplikasikannya di masa modern ini. " Itu sangat tidak seimbang," katanya. " Orang hanya mengetahui nilai keislamannya tapi tidak paham implementasinya."
Hidup menjadi muslim di tengah-tengah gemerlapnya Hollywood sungguh sangat berat. Masalahnya, Preacher adalah bagian dari dunia hiburan di Amerika. Namun Preacher justru tertantang. Dia meninggalkan pekerjaanya sebagai guru dan terjun secara full time sebagai komedian di jagat hiburan Hollywood.
Preacher sempat menjadi pembantu bagi komedian top Hollywood macam George Lopez, Damon Wayans, dan Daryl Hammond. Reputasinya sebagai komedian pun melambung. Namun sebagai muslim, Preacher tidak mungkin membuat lelucon yang merendahkan wanita atau anti-Islam. Meski lelucon yang dilontarkan sudah sama bagusnya dengan seniornya, Preacher keluar dari Hollywood dan memilih jalur stand-up comedy.
Bersama Azhar Usman dan Azeem, kemudian dengan Mo Amer, Preacher mendirikan grup stand-up comedy 'Allah Made Me Funny'. Bersama grup barunya ini, Preacher berusaha mengajak muslim untuk melihat nilai Islam secara luas dan menerapkannya dalam kehidupan. " Aku ingin muslim mengekspresikan diri mereka tanpa terkotak-kotak," katanya.
Meski sudah terkenal di dunia hiburan, Preacher dan rombongannya masih kesulitan menembus negara-negara muslim seperti Arab Saudi dan Dubai. " Kami mengusung cerita yang benar-benar baru dan berbeda tentang menjadi seorang muslim. Mungkin itulah yang menyulitkan kami tampil di sana," pungkas Preacher. (Sumber: On Islam)
Advertisement

Satu Kota, Dua Benua: Sejarah Istanbul dan Perjalanan Panjang Perubahan Namanya

BMKG Terangkan Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Tidak Dapat Diamati dari Indonesia

Perbedaan Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan, Ketahui Terjadinya dan Fenomenanya

Ingin Mulai Hidup Sehat, Ini Cara Biasakan Ganti Kopi Susu dengan Kopi Hitam

Tak Pernah Rendah Diri, Sejak Lahir Bayi Jerapah Sudah Lebih Tinggi dari Kebanyakan Pria Dewasa

Menguasai Lebih dari Satu Bahasa Terbukti Bisa Membuat Otak Tetap 'Muda'

9 Pekerjaan yang Diprediksi Tetap Bertahan di Tengah Gempuran AI