Tentang Selfie, Jemaah Haji Terbelah

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 24 September 2015 07:30
Tentang Selfie, Jemaah Haji Terbelah
"Apa gunanya semua foto-foto ini? Untuk pamer?" kata jemaah yang mengecam haji selfie.

Dream - Dalam dua kali penyelenggaraan haji, jemaah selalu terbagi pendapatnya tentang selfie. Demam selfie telah menjadi tren di kalangan jemaah haji.

Meski para ulama memperingatkan terhadap fenomena media sosial itu, masih banyak juga yang tetap enjoy selfie di tengah rutinitas menjalani ritual ibadah haji. Namun tidak sedikit yang merasa terganggu dengan jemaah haji yang asyik selfie.

" Saya sangat terganggu oleh mereka yang berhenti hanya untuk selfie. Aktivitas itu benar-benar memecah konsentrasi saya ketika sedang berdoa. Ketika sedang berjalan di tengah massa tiba-tiba mereka berhenti untuk foto," kata Mohammed Rashid, seorang insinyur komputer Emirat, mengatakan kepada National, Kamis 24 September 2015.

" Apa gunanya semua foto-foto ini? Untuk pamer?" katanya.

Rashid adalah salah satu dari banyak umat Islam yang menentang aktivitas selfie selama haji. Dia melihat hal itu sebagai suatu kegiatan yang merusak kesucian perjalanan haji.

Tahun lalu, ribuan selfie diambil oleh jemaah dan pengunjung Dua Masjid Suci hingga memicu perdebatan sengit di kalangan cendekiawan Muslim dan jemaah lainnya.

Foto-foto selfie dengan keterangan 'berjalan di sekitar Kabah, mencium Hajar Aswad, berdiri dekat gunung Safa-Marwa, atau berdiri di dekat kubah hijau Masjid Nabi' adalah yang paling umum di media sosial pada saat itu.

Demam serupa mendominasi haji tahun ini, dengan banyak jemaah berpose untuk selfie untuk mendokumentasikan haji mereka.

" Saya mengambil beberapa selfie selama ritual haji utama, seperti di Gunung Arafat dan di Jamarat," kata Noha Safar, seorang guru ESL Yordania yang tinggal di Jeddah.

Menurut Safar, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan ibadah haji dan dia begitu senang berada di sana. Dia ingin mengingatnya dengan mengambil foto sebagai kenangan.

" Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk selfie dan beberapa detik tambahan untuk posting di Facebook."

Bagi para jemaah, yang mengambil selfie selama haji atau umrah, berbagi foto di media sosial akan membantu pemikiran bahwa perjalanan haji tidak menakutkan dan lebih mengundang bagi umat Islam lainnya.

" Saya suka mengambil selfie ketika pergi umrah dengan orang tua saya sekarang. Tapi saya tidak berbagi foto di media sosial," kata Dana Abusalhieh, warga keturunan Yordania-Kanada yang tinggal di Dubai.

Dana menambahkan dia hanya membagi foto ketika saat yang tepat. Dia akan berbagi foto ketika selesai mengerjakan haji atau umrah.

" Karena waktu yang ada di sana harus digunakan untuk ibadah saja."

Menurut sebagian jemaah, selfie di tengah kerumunan massa yang begitu besar sangat berbahaya.

" Saya sangat khawatir tentang jemaah wanita ketika mereka berhenti di tengah-tengah ritual haji untuk selfie. Ini adalah tempat yang sangat ramai dan orang-orang terus bergerak, sehingga untuk berhenti di tengah-tengah semua ini untuk sekedar selfie bisa berbahaya - Anda mungkin akan diinjak-injak," kata Abdelrahim Syed, 37, jemaah haji asal Pakistan.

Kekhawatiran yang sama juga diungkapkan oleh seorang jemaah keturunan Palestina-Yordania asal Dubai.

" Untuk alasan keamanan, sangat tidak aman menggunakan tongkat narsis untuk selfie di Masjidil Haram. Selain ramai, Anda bisa melukai orang lain dengan tongkat Anda. Juga, Anda dapat merugikan diri sendiri saat mengambil selfie. Tidak ada yang akan mengawasi Anda saat mengambil selfie. Dan Anda bisa-bisa jatuh saat Anda tersenyum ketika selfie," kata Noor Al Khatib.

Selain itu banyak jemaah haji yang menganggap selfie sebagai pamer dan menodai kesucian ibadah haji.

Beri Komentar