Cantiknya Budaya Peranakan Karya Lima Desainer

Reporter : Kusmiyati
Senin, 27 Oktober 2014 13:02
Cantiknya Budaya Peranakan Karya Lima Desainer
Kecantikan budaya peranakan diangkat lima desainer ternama Indonesia yaitu Ghea Panggabean, Stephanus Hamy, Widhi Budimulia, Adrianto sebagai tema pagelaran busana di Bazzar Fashion Festival 2014.

Dream - Kecantikan budaya peranakan diangkat lima desainer ternama Indonesia sebagai tema pagelaran busana di Bazzar Fashion Festival 2014. Berlokasi di Jakarta Convention Center (JCC) acara ini terbilang sukses memanjakan para pecinta fesyen Indonesia dari 22 hingga 26 Oktober 2014 ini.

Sama halnya dengan kelima desainer yang berhasil tampil dengan delapan koleksinya masing-masing. Para pengunjung yang memadati tempat berlangsungnya fashion show dibuat kagum dengan karya seni hasl tangan dingin mereka.

Beberapa unsur etnik dari negara-negara seperti Eropa mampu mereka kombinasikan dengan tema Peranakan, sehingga menghasilkan sebuah karya yang fantastis.

Kelima desainer itu yakni Ghea Panggabean, Stephanus Hamy, Widhi Budimulia, Adrianto Halim, dan Yongki Budisutisna. Nama mereka memang sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta fesyen tanah air, kelimanya bernaung di bawah Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI).

Berikut ini ulasan dari koleksi yang mereka tampilkan :

1. Ghea Panggabean

Wanita cantik ini menampilkan corak kain batik Peranakan dengan aksesori, print emas, serta ragam simbol budaya Peranakan, seperti burung hong, naga, dan batu giok.

Alunan khas Tiongkok sangat kental diaplikasikan di setiap busana yang dihadirkan Ghea. Koleksinya kali ini didominasi dengan warna merah yang dipadankan dengan sentuhan motif, bordir dan manik-manik. Walaupun kental dengan Tiongkok, Ghea tidak melupakan budaya Indonesia sehingga koleksinya terlihat semakin cantik dengan perpaduan dua budaya.

2. Stephanus Hamy

Stephanus menampilkan koleksi yang terinspirasi dari Pesisiran Cirebonan yang menyelaraskan plain tops dengan gore skirts motif batik dengan warna-warna khas Pelangi. Rok dengan motif kental kain Cirebon tampil memikat dengan model pias, sarung dan ploi yang dipadankan dengan bahan lace berwarna putih tak lupa aksesoris bunga sebagai belt membuat karyanya semakin sempurna.

3. Widhi Budimulia

Hadir dengan tema Bridging Culture, Widhi berhasil menciptakan kesan glamor dan elegan di karya seni hasil tangan dinginnya. Siluet-siluet yang menggambarkan arsitektur pagoda dan kuil membuat karyanya nampak beda dari yang lainnya.

Koleksi yang dihadirkannya menampakan sisi feminin wanita seperti dress dan blouse. Organdi, jaguard dan lace menjadi bahan yang dipilih Widhi agar terasa nyaman saat dikenakan.

4. Adrianto Halim

Oriental Atmosphere menjadi tema yang Adrianto pilih. Pria ini mampu meleburkan kedua budaya yang memiliki cita rasa tinggi yakni barat dan oriental. Simple, praktis namun tetap elegan menjadi acuan Adrianto untuk koleksinya kali ini.

Koleksinya ini didominasi warna putih yang diberikan sentuhan oriental. Adrianto memberikan sentuhan oriental lain daripada lain, dirinya memodifikasi dengan diperlihatkan dari kancing baju ataupun potongan-potongan dan model pakaian. Permainan motif floral pun seakan mempermanis busana yang dihadirkan.

5. Yongki Budisutisna

Rememberance menjadi tema dari koleksi Yongki saat itu. Keindahan budaya oriental, Eropa dan Melayu dijadikan satu. Peleburan tiga budaya ini semakin mempecantik koleksinya.Batik tulis khas Cirebon dipilih Yongki untuk menyempurnakan karya seninya.

" Koleksi mereka itu bisa dibilang jadi yang ditunggu para pengunjung. Cantik dengan mengangkat budaya peranakan, saya sebagai desainer busana muslimah menganggap menonton fashion show dari desainer yang bukan berhijab itu penting sebagai referensi," kata desainer Norma Houri, kemarin. (Ism)

Beri Komentar