Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Curhat Dokter Frustasi Dengar Bumil Positif Covid-19 Selepas Berlebaran

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 27 Mei 2021 17:47
Curhat Dokter Frustasi Dengar Bumil Positif Covid-19 Selepas Berlebaran
Dalam curahan hatinya di Facebook, seorang dokter mengaku letih dan frustasi karena seorang pasien yang sedang hamil positif Covid-19.

Dream - Salah satu bagian dari masyarakat yang banyak terdampak oleh pandemi Covid-19 adalah kalangan tenaga kesehatan (Nakes). Di saat seorang pasien bisa disembuhkan dari virus Sar-CoV-2, seorang dokter, perawat, dan  Nakes lainnya masih harus berjuang mengobati pasien lainnya. 

Tekanan yang begitu berat tak dipungkiri bisa membuat beberapa Nakes frustasi dengan kondisi yang dihadapinya. Salah satunya adalah foto seorang perempuan diduga berprofesi dokter tengah tertunduk lesu di ruang operasi.

Dokter tersebut terlihat mengenakan Alat Pleindung Diri (APD) lengkap dan tengah bersiap untuk membantu persalinan seorang ibu hamil. Proses persalinan berjalan menjalani operasi caesar.

Diketahui dokter tersebut bernama Dokter Tasha. Dia adalah dokter kebidanan yang bertugas di salah satu rumah sakit di Malaysia. Dalam curahan hatinya di Facebook, ia mengaku letih dan frustasi karena salah seorang pasien hamilnya dinyatakan positif Covid-19. 

Hal yang membuatnya frustasi adalah pasien tersebut dikabarkan tak mematuhi SOP Movement Control Order (CMO), mirip PSBB yang diberlakukan Indonesia.

“ Saya hampir tidak pernah menceritakan apa yang terjadi di tempat kerja tetapi hari ini saya merasa sangat frustrasi dan letih. Perawat saya mengambil gambar ini pada jam 4 pagi hari ini ketika kami menunggu bayi untuk dilahirkan. Ini saya," tulisnya.

 

1 dari 5 halaman

Standy Operasi Cesar dari Jam 3 Subuh

Sebelumnya Dr Tasha menceritakan  menerima panggilan darurat pada pukul 3 dini hari untuk standby karena diminta melakukan operasi caesar.

" Standby berarti tim pediatrik hadir saat proses melahirkan guna memastikan resusitasi jika diperlukan dan mengecek kondisi bayi apakah dalam keadaan baik-baik saja pasca persalinan, ” kata Dr. Tasha dalam postingannya.

Untuk operasi pasien caesar, dibutuhkan minimal 10-15 dokter dan staf untuk menjalankan prosedur dengan lancar. Tim tersebut termasuk personel dari tim anestesi, kebidanan dan pediatri.

 

2 dari 5 halaman

Operasi Persalinan yang Tak Lazim

Dr Tasha melanjutkan, sebenarnya tidak lazim operasi melahirkan dilakukan pukul 04.00 dini hari. Hal ini lantaran hanya ada sedikit dokter dan staf yang bekerja.

Jika keadaan darurat terjadi, dengan sedikitnya jumlah dokter dan staf, segalanya akan terasa lebih stres.

" Namun jika bayi dalam kondisi mengkhawatirkan dan ibu tidak sehat, maka operasi harus dilakukan. Ini menjadi indikasi untuk melanjutkan operasi caesar DARURAT kapan saja," jelasnya.

Namun menurut Dr Tasha, operasi caesar pukul 03.00 itu bisa saja tidak terjadi.

 

3 dari 5 halaman

Pasien Silaturahmi Saat Hari Raya

Dr Tasha menjelaskan operasi di waktu dini hari itu terpaksa dilakukan karena si bumi kemungkinan terpapar Covid-19. Dari hasil tes diketahui pasiennya positif tertular wabah penyakit pandemi tersebut. 

Pengakuan dari si pasien makin membuat Dr Tasha terkejut. Diketahui jika keluarga dari ibu tersebut melanggar anjuran untuk tak bepergiaan saat Hari Raya Lebaran lalu. 

" Ia mengatakan, ada kerabatnya yang tidak sehat namun memilih untuk mengunjunginya tanpa mengenakan masker, tidak menjaga jarak, dan pada dasarnya tidak mengikuti SOP yang diberlakukan," jelas dr. Tasha.

Tidak berhenti disitu. Sang ibu ternyata sempat pergi ke rumah beberapa kerabat meski merasa tidak enak badan.

4 dari 5 halaman

Bayi dan Ibunya Jalani Isolasi

Dr. Tasha mencurahkan rasa frustrasinya setelah kejadian tadi malam di tempat kerjanya. Dirinya sangat terkejut dengan sikap seseorang yang begitu lalai dalam kondisi pandemi saat ini.

“ Saya frustrasi karena selama cobaan ini, dia (pasien) tidak dapat meluangkan waktu 2 menit untuk memikirkan bagaimana hal ini dapat memengaruhi bayinya yang belum lahir. Lupakan tentang kami yang berada di garis depan, dia tidak menyadari bahwa jika dia positif Covid, itu mengubah seluruh pengalaman persalinannya,” jelas Dr. Tasha.

Dalam penjelasannya, jika pasien positif Covid-19, bayi harus diisolasi dari ibunya setelah melahirkan. Setelahnya, bayi baru lahir harus menjalani serangkaian tes usap beberapa jam setelah lahir.

“ Jika hasil tes bayinya positif, dia tidak memikirkan bahaya yang ditimbulkannya pada anaknya. Ia tidak memikirkan jumlah sumber daya yang akan digunakan hanya untuk memfasilitasi seorang pasien karena kurangnya pertimbangan untuk mengikuti SOP. Tidak ada pertimbangan yang diberikan, tidak ada kesadaran yang muncul," tulisnya.

 

5 dari 5 halaman

Merasa Lelah dan Kehilangan Motivasi

Tasha mengungkapkan bahwa saat ini, dia merasa lelah dan kehilangan motivasi.

“ Sungguh melelahkan ketika Anda merasa harus berjuang sendirian dalam pertempuran ini dan beberapa 'orang' (rakyat) paling tidak peduli untuk berpikir serta memainkan peran mereka dalam hal ini. Paling tidak membantu meratakan kurva. Mereka lebih suka mendengarkan berita bohong, mengabaikan SOP, melewati perbatasan, dan akibatnya virus terus menyebar, ”ujarnya.

Dia menunjukkan bahwa baru kemarin, Malaysia mencatat lebih dari 7.000 kasus baru, jumlah tertinggi yang pernah tercatat hingga saat ini.

“ Karena tingkat kesadaran dan pertimbangan NOL dari beberapa pihak. Pada titik ini meskipun MCO 2 minggu, kasus masih meningkat. Kami tidak dapat melakukan ini sendirian, kami akan gagal jika Anda tidak melakukan bagian Anda. Kepada semua orang yang membaca ini, saya mohon - Tolong lakukan bagian Anda.," tutup Tasha.

Sumber: World of Buzz

 

Beri Komentar