Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Freepik)
Dream – Covid-19 masih menjadi ancaman dunia yang tengah dicari solusinya. Berbagai upaya pun dilakukan, agar dapat mencegah penularannya.
Orang-orang yang terinfeksi memiliki gejala bervariasi. Tergantung kondisi tubuh dan kesehatannya.
Namun, umumnya terdapat dua jenis kategori pasien covid-19, yaitu:
Meskipun tiap orang memiliki gejala dan risiko yang berbeda, rupanya terdapat efek berkepanjangan yang disebabkan oleh Covid-19.
Seperti, rasa lelah yang terus-menerus, sesak napas, dan nyeri otot. Bahkan efek tersebut masih tetap ada setelah pasien dinyatakan sembuh.
Pada Juli, peneliti di Italia menemukan hampir 90 persen pasien dengan infeksi akut masih mengalami gejala pada dua bulan kemudian.
Orang yang tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan juga dapat menghadapi efek yang berkepanjangan.

Terkadang, gejala ini membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk muncul.
Covid-19 pada dasarnya dianggap sebagai virus pernapasan. Tetapi efek yang ditimbulkan tidak selalu terbatas pada organ paru-paru.
Virus tersebut berikatan dengan reseptor ACE2 tubuh yang banyak ditemukan pada jantung, pembuluh darah, ginjal, hati, dan saluran pencernaan.
Para peneliti menduga tingkat peradangan yang terjadi dipicu oleh sistem kekebalan tubu dari masing-masing penderita.

Paru-paru
Paru-paru bisa rusak saat virus memasuki sel-sel saluran udara. Ini dapat menyebabkan jaringan parut dan kaku yang membuat paru-paru sulit melakukan tugasnya untuk mengoksidasi darah. Sehingga membuat orang terengah-engah.
Jantung
Virus dapat menyebabkan radang otot jantung atau gagal jantung bila organ tidak memompa darah sebagaimana mestinya. Gagal jantung juga bisa terjadi karena kekurangan oksigen.
Otak
Virus yang masuk ke otak dapat menyebabkan infeksi yang parah. Gejala neurologis juga bisa disebabkan oleh peradangan di otak atau stroke yang disebabkan oleh pembekuan darah.

Saat ini banyak penelitian yang tengah dilakukan untuk mengidentifikasi efek jangka panjang dari virus covid-19.
Selain itu, dengan adanya penelitian tersebut, diharapkan tindakan pencegahan yang dilakukan juga tepat.
Namun yang terpenting adalah bagaimana agar tidak tertular virus ini. Dengan menerapkan berbagai protokol kesehatan yang telah diberlakukan.
(Sumber: abc.net.au)
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya