5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Fahion Hijab/ Foto: Shutterstock
Dream – Fashion show merupakan acara yang dirancang untuk mengenalkan lini pakaian sebuah brand kepada para pecinta mode. Peragaan busana juga memberikan kesempatan kepada desainer, model, jurnalis, hingga pelanggan untuk berperan dalam inovasi dunia fashion.
Dimulai pada awal 1900-an, tujuan utama fashion show adalah tentang mempromosikan dan menjual produk terbaru. Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal yang membuat fashion show dipaksa untuk berjalan secara daring.
Setiap budaya, tren, dan pesan sosial yang ingin disampaikan oleh desainer, akan diperlihatkan melalui fashion show. Dengan adanya pandemi, kreativitas sebuah brand diuji untuk bertahan di pasar digital yang luas seperti bereksperimen dengan teknologi di catwalk. Hal ini dirasakan oleh ready-to-wear label Peggy Hartanto yang harus mengubah cara mempromosikan produknya melalui digital.
“ Dari 2012 kita launching sampai 2019 sebelum pandemi, kita selalu ikut fashion show setiap tahun. Begitu 2020 tidak memungkinkan adanya social gathering, kita juga harus berpikir dan merubah format salah satunya dengan video,” kata Lydia Hartanto selaku Co-Founder Peggy Hartanto dalam Jakarta Fashion Hub Webinar beberapa hari lalu.
Lydia menjelaskan, saat ini ada berbagai cara kreatif yang bisa diadaptasi untuk menjangkau calon konsumen seperti dengan melakukan fashion presentation atau fashion installation. Selain itu, pendekatan fashion show yang semula serius, bisa terasa menyenangkan dengan menambahkan pertunjukan musik atau atraksi lain di dalamnya.

Meski fashion show virtual membuat brand mengeksplorasi hal baru dan menjangkau banyak orang, peragaan busana secara tatap muka masih dibutuhkan agar undangan yang datang bisa merasakan pengalaman yang berbeda. Hal ini disampaikan langsung oleh Zico Halim selaku Co-Founder Tangan, brand yang dikenal edgy dan berani.
“ Kita selalu bertujuan setidaknya 3 sampai 5 indera bisa merasakan. Jadi mereka datang gak cuma lihat baju keren terus pulang, tapi ada sesuatu yang berkesan mau sensasi, visual, musik, apa pun,” kata Zico dalam acara serupa.
Mengingat era fashion show virtual baru berjalan dan seluruh pihak masih beradaptasi, Margaretha Novianty, Co-Founder Tangan, juga menyampaikan bahwa ini merupakan ‘tugas’ yang harus didiskusikan. Dengan begitu bukan hanya brand yang sukses menggelar pagelaran busana, tetapi audiens juga bisa merasakan konsep dan nilai yang dibawa oleh sebuah koleksi.
Laporan Elyzabeth Yulivia
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?