Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Gadget jadi hal yang sangat sulit dilepaskan. Terutama bagi mereka yang bekerja secara online atau di dunia digital.
Saat memiliki waktu istirahat, rasanya 'tak rela' menaruh gadget begitu saja di meja. Selalu ingin menggenggam, baik untuk mengambil foto, video atau mengunggah sesuatu ke media sosial.
Tanpa disadari, penggunaan gadget berdampak buruk kondisi fisik dan psikologis.
Pemakaian gadget, terutama media sosial yang berlebihan dapat mengurangi aktivitas fisik, menyebabkan gangguan tidur serta stres. Bahkan menurut Vera Itabiliana, seorang psikolog, gadget seperti 'racun'.

Konten di dalamnya bisa berdampak buruk pada kesehatan psikologis. Terutama, konten media sosial yang tak diketahui kejelasannya.
" Toxic-nya dinilai dari seberapa jauh kita masukin konten ke hati dan pikiran. Kalau kepikiran berarti sudah nggak sehat," ujar Vera dalam sebuah acara di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 30 Juli 2019.
Sayangnya, hal tersebut seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Untuk menghindari penggunaan gadget berlebihan, kamu harus menyeimbangkan dunia offline dan online.

" Harus ada orang lain yang mengingatkan. Kalau ada yang mulai terganggu dengan kebiasaan memakai gadget, berarti mulai berlebihan," ujar Vera.
Menurutnya, lihat kembali aktivitas harian. Mulai dari makan, tidur, bekerja hingga bersosialisasi. Jika kebanyakan aktivitas harian dihabiskan dengan bermain gadget, pertanda kamu harus taruh gadget kesayangan dan cari aktivitas lain.
Jangan sampai kamu sangat aktif di dunia online, tapi di kehidupan sebenarnya malah seperti kehilangan arah dan teman. Kuncinya adalah hidup secara seimbang.
Dream - Penggunaan gadget secara berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Salah satunya, bisa menyebabkan obesitas karena kurangnya gerak tubuh.
Gadget juga disebut-sebut bisa merusak mental anak usia dini. Sebab, bila digunakan secara berlebihan, bisa membuat anak-anak sulit bersosialisasi. Tak heran saat ini mulai banyak orang tua yang membatasi penggunaan gadget pada anak mereka.
Tak hanya anak-anak, dampak buruk penggunaan gadget berlebih juga mengancam remaja. Gadget bisa menghambat aktivitas fisik yang berpengaruh pada pertumbuhan Prefrontal cortex, bagian kecil di otak depan.

" Prefrontal cortex mulai berkembang saat remaja. Dan berperan dalam menentukan kemampuan kognitif, mengambil keputusan, bersosialisasi serta mengembangkan kepribadian," ungkap Sandi Perutama Gani, Medical Expert Combiphar di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 29 Januari 2019.
Supaya Prefrontal cortex bisa berkembang dengan baik, anak usia remaja memerlukan endorphin yang tidak bisa didapatkan ketika terlalu sering bermain gadget.

Endorphin biasanya dihasilkan dari keseimbangan hormon kortisol, dopamine dan gen DCC (Deleted In Colon Cancer). Hormon kortisol berfungsi menekan stres, dopamine untuk mengontrol emosi dan gen DCC berpengaruh pada perkembangan mental.
" Jika dopamine terlalu tinggi, akan membuat orang jadi gila. Kalau terlalu rendah, menyebabkan parkinson. Sedangkan semakin tinggi gen DCC, pemicu kanker usus besar, akan berpengaruh pada perkembangan mental," tambah Sandi.
Keseimbangan hormon kortisol, dopamine, dan gen DCC, bisa diperoleh lewat aktivitas fisik dan pola hidup sehat.
" Saat beraktivitas, otak akan bekerja lebih optimal dan menghasilkan hormon tersebut. Jadi, perbanyak aktivitas fisik, seimbangkan dengan waktu istirahat dan jauhi narkoba," tutup Sandi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya