6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Saat Berkendara, Pandangan Harus Jauh Ke Depan. (foto: Shutterstock)
Dream – Saat berkendara kita harus konsentrasi. Pandangan harus jauh ke depan untuk memetakan medan yang akan dilalui. Jangan sampai meleng, karena akan sangat berbahaya.
Instruktur Safety Riding Jakarta Defensive Driving Consultant (JDCC), Jusri Pulubuhu, mengatakan, mata merupakan sensor yang mengirim data pada otak untuk memerintah semua pergerakan badan untuk mengendali motor.
“ Ilmu dalam balapan motor asalnya dari berkendara sehari-hari dan mata merupakan faktor penentu pembalap tersebut cepat. Sama seperti berkendara sehari-hari, mata merupakan pengumpul data,” kata Jusri, dikutip dari Federal Oil, Rabu 14 Oktober 2020.
Jika tidak memandang lurus ke depan, rata-rata pandangan dijatuhkan ke jalanan yang akan dilewati begitu saja. Dengan begitu, mata tidak memiliki data yang banyak.
Ini berbeda jika mata lurus ke depan. Tak hanya jalanan yang akan dijejaki, keadaan sekitar bisa terpantau.
Beda jika mata lurus kedepan, tak hanya jalanan yang akan dijejaki, tapi keadaan sekitar bisa terpantau.
“ Soal arah pandang ini menyesuaikan, dengan semakin bertambahnya kecepatan mata harus semakin jauh ke depan,” kata dia.
Alasannya, jarak tempuh akan semakin cepat, maka mata harus secepat mungkin mengirimkan datanya pada otak. Jika tiba-tiba ada yang menyeberang pada jarak 100 meter dan kecepatan motor 80 km per jam, situasi tersebut bisa langsung diatasi,
Jika pengendara hanya melihat 30 meter ke depan, rintangan tadi tidak bisa terpantau. Hal ini disebabkan oleh pengendara yang harus melihat dengan kecepatan 80 km per jam.
Di jalanan naik turun, pandangan mata yang jauh ke depan juga berguna untuk mengantisipasi penggunaan gigi lebih rendah. Saat jalan menurun bisa disiapkan gigi yang pas untuk engine brake.
Metode ini memang harus dibiasakan, untuk langkah awalnya lakukan di lalu lintas sepi dengan jalur lurus yang panjang, baru bertahap ke jalanan ramai.
" Kalau belum terbiasa pasti arah mata akan kembali turun, padahal ini tidak perlu, karena area tersebut sudah dilihat sebelumnya," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
