Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Credits : Shutterstock
Dream- Istilah buzzer atau pendengung sebenarnya sudah lama ada. Istilah ini belakangan jadi ramai di dalam negeri. Tepatnya sejak peristiwa yang dialami oleh komika Bintang Emon diduga mendapat serangan teror buzzer media sosial, juga kasus salah satu tanah air musisi Erdian Aji Prihartanto atau yang lebih dikenal sebagai Anji.
Saat itu, Anji merasa banyak kejanggalan mengenai potret foto jenazah korban Covid-19 karya fotografer National Geographic, Joshua Irwandi. Anji curiga dari mulai pengambilan gambar mengingat keluarga pasien corona tidak bisa menemui. Lantas Anji pun menduga foto itu hasil settingan dan hasil karya seorang buzzer.
Lalu apa sebenarnya buzzer media sosial itu dan bagaimana cara kerjanya?
Apa yang dimaksud dengan buzzer? Secara etimologi, arti buzzer adalah lonceng, bel, atau alarm yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan banyak orang di suatu tempat dengan tujuan untuk menyampaikan suatu pengumuman.
Saat ini, penggunaan istilah “ buzzer” sering dipakai dalam aktivitas media sosial. Dalam konteks media sosial, arti buzzer adalah orang yang mempromosikan, mengkampanyekan, atau mendengungkan sesuatu, baik itu produk atau isu tertentu melalui postingan di akun media sosialnya.
Sarana yang digunakan para buzzer biasanya melalui akun media sosial dengan banyak pengikut seperti twitter, facebook, instagram, dan media sosial lainnya. Mereka umumnya selalu online dan terkadang bisa secara cepat memberikan tanggapan kepada warganet dan cepat mem-viralkan tokoh, produk, atau isu tertentu.
Berdasarkan penjabaran kerja dan pengertiannya, maka buzzer umumnya adalah orang yang memiliki pengaruh di media sosial. Mereka memiliki banyak pengikut, sehingga ketika menyebarluaskan informasi, maka informasi tersebut dapat lebih mudah untuk tersebar lagi dan dipercaya.
Jadi, buzzer adalah orang yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyuarakan sebuah kepentingan. Entah orang itu tergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan hal tersebut, atau ada imbal baliknya. Cara menyuarakan bisa secara langsung atau secara anonim.

Tujuan seorang buzzer adalah meyakinkan publik terhadap topik, produk dan tokoh yang dikampanyekan. Karena aktivitasnya, para buzzer kemudian dibidik oleh tokoh, perusahaan atau lembaga untuk mengampanyekan diri, produk, atau topik tertentu yang ingin di-endors melalui akun media sosial. Tidak heran, para buzzer ini dibayar/diberi reward tertentu oleh pemesannya.

Tugas utama seorang buzzer adalah melakukan promosi. Bisa terhadap suatu produk, jasa, kegiatan dan lain sebagainya. Bisa juga untuk membangun image atau menyukseskan CSR suatu perusahaan.
Ada juga yang melakukan suatu kampanye untuk kebutuhan pribadi atau organisasi, bukan sekadar perusahaan. Misalnya melakukan kampanye melek literasi, dan lain sebagainya. Dengan begitu terlihat kan kalau cakupan pekerjannya cukup luas. Sampai ke ranah kampanye politik dan isu-isu politik.
Cara kerja buzzer di semua lini mungkin sama, mereka menggunakan media sosial dan menggunakan media-media sosial tersebut untuk menyebarluaskan informasi. Mereka akan membuat persona palsu dari ratusan akun yang mereka kelola.
Lalu mereka akan memberikan pesan-pesan yang membujuk seseorang, memuji klien mereka, atau menghina sang lawan. Biasanya, untuk kerja seperti ini akan dikerjakan oleh satu tim. Karena cukup sulit mengelola ratusan media sosial sendiri.

Jawabannya adalah, tidak, sejauh apa yang dipromosikan atau dikampayekan sesuai dengan kenyataan, benar, dan demi kemaslahatan hidup banyak orang.
Dengan demikian, sejauh kompasianer masih independen dalam menulis tentang tokoh atau isu tertentu demi kebenaran, nurani, dan kemasyalahatan hidup banyak orang, maka dia tidak serta-merta digolongkan sebagai buzzer yang dikonotasikan sebagai negatif.
Sumber : Kapanlagi.com, Berbagai Sumber
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya