Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
CEO Eid Restaurant, Yu Hyun Woo, Ingin Mempermudah Orang Islam Yang Ingin Mencicipi Kuliner Khas Korea Selatan. (Sumber: Korea Herald)
Dream - Potensi pasar wisata halal ditangkap pelaku usaha di Korea Selatan. Salah satunya adalah Eid Restaurant, salah satu restoran bersertifikat halal di Korea Selatan.
" Saya hanya ingin membantu orang Islam yang ingin mencicipi kuliner Korea Selatan tanpa mencemaskan status halalnya," kata CEO Eid, Yu Hyun Woo, dilansir dari situs Korea Herald, Kamis 21 April 2016.
Eid Restaurant merupakan satu dari lima restoran di Korea Selatan yang telah mendapatkan sertifikat halal. Restoran ini terletak di distrik Itaewon dan menyajikan kuliner khas Negeri Gingseng, seperti bibimbap (nasi campur khas Korea Selatan), samgyetang (sup ayam gingseng) dan bulgogi (daging panggang yang dilumuri bumbu).
Tentu, masakan ini telah diproses sesuai dengan prosedur halal. Misalnya, semua bahan makanan harus bebas dari unsur haram. Karyawannya harus menyembelih sendiri hewan yang akan dimasak dan penyembelihannya pun sesuai dengan ketentuan Islam. Pemilik dan kokinya pun harus orang Islam untuk menjadikan restoran itu halal.
Yu mengakui tidak mudah untuk membuka rumah makan yang juga ramah terhadap orang Muslim. Dia mengalami kesulitan ketika hendak membuat gochujang (pasta cabai) dan doenjang (pasta kedelai) halal yang akan digunakan sebagai bumbu makanan. Sebab, bahan-bahan itu menggunakan alkohol untuk fermentasi. Hal ini membuat mereka mencari sendiri pasta yang difermentasi secara alami.
Tak hanya itu, pria ini juga menemui kendala untuk membuat samgyetang dan bulgogi. Untuk bulgogi, Yu mengatakan para pegawainya harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengiris-iris bongkahan daging sapi halal.
" Samgyetang itu menggunakan daging ayam yang masih muda, tapi kami tidak menemukan daging ayam muda yang halal. Akhirnya, kami mengunakan daging ayam dewasa yang halal," kata dia.
" (Makanan) halal menjadi lebih mudah diakses bagi orang yang lebih memikirkan sertifikat HACCP (Halal and Hazard Analysis Critical Control Point) daripada jenis makanan," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya