8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menghadapi detik-detik melahirkan, jadi hal yang paling mendebarkan bagi para ibu. Apalagi jika menanti proses melahirkan anak pertama. Rasa tegang, panik, dan takut pasti bercampur jadi satu.
Ada ibu yang menjalani proses persalinan dengan mudah, namun ada juga yang penuh prosedur menegangkan dan rasa sakit yang luar biasa. Rhea Demsey, seorang doula dan konselor, mengungkap kalau proses persalinan sendiri memang sangat berisiko menimbulkan trauma.
" Rasa sakit kontraksi yang terus meningkat, darah yang keluar, pemeriksaan dalam, jeritan di ruang persalinan. Semuanya yang dihadapi ibu, jika tanpa persiapan mental yang matang memang akan menimbulkan trauma," ujar Demsey, seperti dikutip dari KidSpot.
Kondisi trauma pada ibu setelah persalinan biasanya ditandai dengan rasa ketakukan, kekhawatiran yang begitu tinggi, putus asa hingga depresi dan stres. Biasanya hal ini dialami oleh para ibu yang menjalani proses persalinan yang rumit.
" Pengalaman persalinan yang sangat menegangkan bisa menimbulkan trauma mendalam. Hal ini cenderung dihadapi para ibu yang menjalani prosedur medis yang cukup menguras emosi saat melahirkan. Bisa karena prosesnya yang lama, perdarahan yang banyak, tak didukung oleh pasangan atau fasilitas medis yang tak memadai," ungkap Demsey.
Penting bagi ibu bersama ayah untuk menyiapkan mental, demi mengurangi risiko trauma saat persalinan. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti kelas kesehatan ibu hamil dan persalinan, konsultasi dengan dokter/ bidan secara teratur.
" Menggali informasi sebanyak mungkin dari sumber yang baik soal persalinan memang sebaiknya dilakukan ayah dan ibu jelang persalinan. Dengan pengetahuan yang cukup mereka jadi tahu apa yang harus dilakukan jika persalinan terjadi dan jika menghadapi kondisi yang buruk," ungkap Demsey.
Jika memang menjalani proses persalinan yang menimbulkan trauma, segera cari bantuan. Berkonsultasilah dengan dokter, katakan ketakutan dan kepanikan yang selalu dialami. Dokter bisa saja merujuk untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
" Jangan beranggapan kalau hal tersebut akan hilang dengan sendirinya. Apabila dibiarkan bisa jadi depresi berkepanjangan dan sangat tidak sehat bagi ibu dan bayi," kata Demsey.
Trauma persalinan yang dibiarkan sangat mungkin berkembang menjadi pospartum depression atau depresi pasca melahirkan. Untuk itu pastikan ibu mendapat pendampingan dan dukungan yang memadai jika mengalami trauma persalinan.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian