Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah
9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
Ibu Hamil/ Foto: Unsplash
Dream - Kehamilan bukan hanya mengubah tubuh, tetapi juga secara dramatis “ merombak” otak. Sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan, kehamilan dapat menghilangkan lebih dari 80% materi abu-abu di area tertentu otak, dan sebagian besar tidak pernah kembali.
Temuan ini terungkap ketika seorang ahli saraf yang tengah hamil bersedia menjalani berkali-kali pemindaian otak, dimulai sejak awal kehamilan hingga dua tahun setelah melahirkan.
Hasilnya, setelah persalinan memang ada sebagian materi abu-abu di otak yang kembali, namun sebagian besar seolah tergores dan hilang permanen.
“ Rata-rata terjadi penurunan volume materi abu-abu sebesar 4% pada area tertentu,” ujar Emily Jacobs, profesor madya ilmu psikologi dan otak di University of California, Santa Barbara (UCSB).
Menurutnya, skala perubahan ini mirip dengan yang dialami saat pubertas — masa ketika lonjakan hormon justru membuat otak memangkas jaringan berlebih agar bisa bekerja lebih efisien. Jacobs menjelaskan, hilangnya materi abu-abu tidak selalu berarti hal buruk. Seperti pada pubertas, ini bisa jadi proses ‘penyempurnaan’ sirkuit otak.
Menariknya, perubahan pada otak ibu hamil tidak semuanya permanen. Pada trimester pertama dan kedua, justru materi putih — jaringan yang menghubungkan neuron — menguat.
“ Kami membayangkannya seperti pipa air. Jika pipa kuat, aliran informasi berjalan lancar tanpa hambatan,” kata Liz Chrastil, profesor madya neurobiologi dan perilaku di University of California, Irvine, sekaligus subjek utama studi ini.
Chrastil sendiri tidak mengalami gejala “ mommy brain” atau komplikasi kehamilan seperti preeklamsia. Kondisi ini menjadikannya acuan penting untuk memahami bagaimana otak berubah pada kehamilan sehat, dan bagaimana perubahannya jika terjadi komplikasi.
Preeklamsia, misalnya, diketahui memengaruhi pembuluh darah otak dan meningkatkan risiko stroke maupun demensia vaskular. Menariknya, penyakit seperti migrain atau multiple sclerosis justru sering membaik saat hamil.
Peta otak yang detail seperti milik Chrastil dapat membuka jalan untuk memahami perubahan tersebut, sehingga dokter dapat lebih siap menangani kondisi neurologis selama kehamilan. Walaupun studi ini hanya melibatkan satu orang, temuan ini sejalan dengan penelitian-penelitian besar yang memantau otak para ibu baru.
“ Perubahan otak akibat kehamilan kemungkinan besar adalah fenomena yang terjadi secara luas,” kata Magdalena Martínez-García, peneliti pascadoktoral di UCSB.
Ahli saraf Elseline Hoekzema dari Amsterdam University Medical Center yang tidak terlibat dalam studi ini pun sependapat, menyebutkan bahwa hasil ini berpotensi mewakili populasi lebih besar.
Sumber: LiveScience
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes

Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan