Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
(Foto: Shutterstock)
Dream - Selama ini, tak banyak yang tahu mengenai manfaat Miss V secara keseluruhan. Tanpa disadari, alat genital ini memiliki kemampuan mengubah warna celana dalam yang sering dipakai.
Coba perhatikan bagian tengah celana dalam yang warnanya agak berbeda. Hal itu merupakan reaksi dari cairan yang keluar dari miss v dengan tingkat tingkat keasaman (pH) alami.
Pada umumnya, hal itu disebut dengan keputihan. Saat mendengar keputihan, para wanita langsung berpikir tentang kondisi yang membuat mereka tidak nyaman.

Namun keputihan yang memiliki pH normal bukan merupakan indikasi penyakit di area intim. Tingkat pH menentukan seberapa asam atau basa sebuah benda. Jika nilainya di bawah tujuh, maka disebut asam.
Karena itu, vagina yang sehat memiliki pH antara 3,8 dan 4,5 yang berarti cairan miss v bersifat asam. Biasanya, keputihan akan menyebabkan ketidaknyaman, tapi itulah cara tubuh wanita mempertahankan dirinya.
Menurut laporan The Sun, bakteri alami di dalam miss v yang disebut dengan laktobasilus akan menjaga pH miss V berada di tingkat normal. Dengan tingkat keasaman yang terjaga, cairan keputihan merupakan pelindung area genital dari berbagai macam masalah kewanitaan.

Jika tingkat keasaman tidak normal, maka akan membuat kita rentan terhadap penyakit seksual menular.
Dr. Vanessa MacKay, juru bicara Royal College of Obstetricians and Gynecologists, mengatakan miss v dirancang untuk membersihkan dirinya dengan sekresi atau cairan alami.
" Vagina mengandung bakteri baik, yang selalu ada untuk melindungi vagina. Jika bakteri baik tersebut terganggu, maka bisa menimbulkan infeksi dan peradangan pada vagina," jelas Vanessa.
Menurut Vanessa, wanita yang area intimnya sehat umumnya bisa memproduksi cairan keputihan yang bening atau berwarna putih.
" Cairan tersebut diproduksi secara alami dari leher rahim yang sering kita kenal sebagai serviks. Cairan keputihan yang sehat tidak memiliki bau yang menyengat atau warna yang menonjol.
" Namun kaum wanita mungkin akan merasa tidak nyaman karena ada sesuatu yang basah di bawah sana," pungkas Vanessa.
(Sah)
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol