Intip Gaya Hijab ala Menteri Susi Pudjiastuti Saat di Aceh

Reporter : Irma Suryani
Kamis, 19 Oktober 2017 15:24
Intip Gaya Hijab ala Menteri Susi Pudjiastuti Saat di Aceh
Datang ke Daerah Istimewa Aceh, Susi mengenakan penutup kepala serupa turban lengkap dengan baju adat asal Serambi Mekah.

Dream - Menteri Susi Pudjiastuti kerap menjadi bahan perbincangan netizen. Mulai dari gaya nyentriknya yang memimpin Kementerian Perikanan dan Kelautan, sampai kebiasaanya menikmati kopi dan surfing di pantai pun tak luput dari pandangan warganet.

Yang terakhir, perempuan yang berasal dari Pangandara ini tampil nyentrik mengenakan sandal kala hadir ke Istana Negara.

Namun kali ini ada yang berbeda dari gaya pemilik Susi Air ini. Datang ke Daerah Istimewah Aceh, Susi mengenakan penutup kepala serupa turban lengkap dengan baju adat asal Serambi Mekah.

 

Beberapa minggu sebelum bencana tsunami melanda Aceh, Boss baru membeli dua pesawat Caravan untuk dipakai mengangkut hasil ikan & lobster perusahaan perikanan Susi Marine miliknya. Boss tahu bahwa nilai ikan segar jauh lebih tinggi dibandingkan ikan beku atau olahan lainnya, sehingga moda transportasi tercepat untuk menjaga kesegaran ikan adalah lewat udara. Pesawat saat itu baru dilatih untuk terbang dari Pangandaran ke Jakarta sebagai uji coba angkut produk laut. 26 Desember 2004, kabar mengenai tsunami yang memporak-porandakan Banda Aceh dan sekitarnya mendunia, tetapi berita mengenai Meulaboh, wilayah yang berada di pesisir barat Sumatera menghadap langsung Samudera Hindia, minim. Boss dikontak oleh beberapa orang apakah bisa menggunakan pesawatnya untuk mengangkut wartawan atau evakuasi. Wilayah Aceh dan Maluku adalah dua daerah di Indonesia yang saat itu sedang konflik, sehingga pihak asuransi pesawat tidak mau menanggung biaya bila terjadi kerusakan atau bencana di sana. Namun akhirnya Boss tetap mengambil resiko untuk mendarat di Meulaboh setelah sebelumnya memutar di udara, setidaknya 6 kali. Meskipun sudah diingatkan, " Jangan ambil misi bunuh diri" , pesawat Caravan tersebut akhirnya berhasil mendarat dengan sisa landasan 480 meter yang masih utuh setelah retak karena gempa. Hari-hari setelah itu, Boss dan pesawatnya mengangkut makanan dan obat, serta awak media dari Medan, dengan biayanya sendiri. Bila kembali, pesawat melakukan evakuasi medis bagi korban bencana yang tidak bisa ditangani di Meulaboh. Terkadang, pilihan siapa yang diangkut adalah urusan hidup atau mati. Sampai Jan 2005, karena sudah tidak ada uang pribadi yang bisa disisihkan, Boss memutuskan untuk tidak terbang lagi. Media internasional saat itu, juga pemerintah Indonesia, akhirnya meminta pesawat Susi untuk mengudara kembali dengan biaya mereka. Di situlah, sejarah " Susi Air" dimulai. 8 thn setelah Boss terakhir mendarat ke Meulaboh akhirnya beliau kembali untuk memenuhi undangan kuliah umum dari Universitas Teuku Umar. Usai kegiatan, Boss kembali ke Jakarta, masih memakai baju adat Aceh lengkap dengan turban sebagai penutup kepala - bak Cut Nyak Dhien masa kini. 17 Oktober 2017.

A post shared by Fika (@ffawzia07) on

Hal ini diabadikan oleh sang staffnya di Instagram. Ia menceritakan bagaimana peran Ibu Susi dalam membantu korban Tsunami Aceh menggunakan pesawatnya yang baru dibeli.

" 8 thn setelah Boss terakhir mendarat ke Meulaboh akhirnya beliau kembali untuk memenuhi undangan kuliah umum dari Universitas Teuku Umar. Usai kegiatan, Boss kembali ke Jakarta, masih memakai baju adat Aceh lengkap dengan turban sebagai penutup kepala - bak Cut Nyak Dhien masa kini. 17 Oktober 2017," tulis akun Fika di Instagram.

Terlihat ibu susi mengenakan baju adat Aceh bernuansa orange dengan wedges sebagai alas kaki dan penutup kepala yang senada dengan bajunya.

Sambil menenteng tas, ia terlihat snatai menuju ke pesawat untuk kembali ke Jakarta.

Beri Komentar