Tere: Banyak Anggota DPR Merokok di Ruang Sidang

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 6 November 2015 15:02
Tere: Banyak Anggota DPR Merokok di Ruang Sidang
"Di dalam ruang sidang kadang banyak anggota parlemen yang merokok," jelasnya

Dream - Di 2009 musisi bernama lengkap Theresia Ebenna Ezeria terpilih sebagai anggota Dewan Pewakilan Rakyat (DPR) dari Partai Demokrat untuk daerah pemilihan II Jawa Barat. Selama di DPR, perempuan yang akrab di sapa Tere ini berada di Komisi X yang membawahi olah raga.

Meski cukup sukses dalam karir politiknya, Tere tak lama menjabat sebagai anggota parlemen. Sebab, di tahun 2012 dirinya mundur sebagai anggota parlemen.

Saat menjadi pembicara di diskusi 'Kolase Bicara: Kisah Para Korban Rokok' di Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 6 November 2015, dia memaparkan salah satu alasan pengunduran dirinya sebagai anggota parlemen. Dia mengatakan suasana parlemen yang tidak sehat menjadi alasan dirinya mundur.

" Di dalam ruang sidang kadang banyak anggota parlemen yang merokok," jelasnya kepada pengunjung diskusi.

Tekanan politik dan suasana yang tidak sehat inilah yang menyebabkan kondisi kesehatannya menurun. Saat memeriksakan diri ke dokter dia mendapat diagnosa yang mengejutkan.

" Saya didiagnosa menderita pneumonia (infeksi yang menyebabkan peradangan jaringan paru-paru). Paru-paru terasa kaya terbakar. Bahkan akibat dari itu suara saya sampai hilang," jelasnya.

Untuk mengubah itu, dirinya kemudian memutuskan untuk memulai hidup sehat. Salah satu caranya ialah meninggalkan lingkungan yang menyebabkan dirinya sakit, yaitu DPR.

" Saya waktu itu ingin mengubah pola hidup saya. Jadi, bodoh banget kalau saya membiarkan diri saya tetap di dalam lingkungan yang tidak sehat itu," pungkasnya. (Ism) 

1 dari 5 halaman

Robby, `Pejuang Anti-Rokok` Leher Berlubang Meninggal Dunia

Dream - Beberapa waktu lalu sempat tersebar kabar pengakuan Robby Indra Wahyuda. Dia harus kehilangan pita suara lantaran menderita kanker tenggorokan akibat merokok.

Usai menjalani operasi, Robby kemudian giat berkampanye antirokok. Dia kerap mengunggah foto-fotonya di media sosial untuk menunjukkan betapa bahayanya dampak yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan.

Menurut keterangan tertulis diterima Dream.co.id dari Gerakan Muda FCTC, kabar duka datang hari Selasa, 23 Juni 2015 kemarin. Robby meninggal dunia pada pukul 14.00 di usia 27 tahun setelah berjuang keras melawan kanker tersebut.

Sejak Oktober 2014, Robby terlibat dalam kampanye anti rokok, mendesak Presiden RI untuk segera mengaksesi FCTC. Dia juga pernah membuat petisi online desakan tersebut.

Dalam petisi tersebut, Robby menyatakan menjadi korban dari bahayanya mengkonsumsi rokok. Akibat aktivitasnya merokok sejak kelas 6 SD, Robby tidak bisa melanjutkan karir sebagai penyanyi band lantaran pita suaranya sudah tidak ada.

Mayoritas generasi muda saat ini menjadi perokok karena terpengaruh iklan/promosi rokok yang besar-besaran sehingga mereka terjerat menjadi perokok pemula. Tidak adanya regulasi mengenai iklan rokok di media massa menjadikan kami target empuk terutama dengan penyampaian pesan-pesan yang menggiurkan.  Usaha dengan memberikan beasiswa, mendanai kompetisi-kompetisi olahraga dan pentas seni remaja juga dilakukan dengan dalih tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility),” demikian petikan pernyataan Robby dalam petisi onlinenya. Innalillahi, semoga khusnul khotimah. Amin. (Ism) 

2 dari 5 halaman

Pesan Terakhir Robby, `Pejuang Anti-Rokok`

Dream - Nama Robby Indra Wahyuda (27) yang meninggal dunia karena kanker laring akibat rokok pasti tak asing lagi. Lantaran perjuangannya melawan kanker laring yang dideritanya, ia begitu semangat mengkampanyekan bahaya rokok ke media sosial.

Kini nama Robby hanyalah sebuah nama, setelah perjuangannya melawan penyakit yang merenggut nyawanya. Akhirnya pada Selasa, 23 Juni 2015 pukul 14.00 siang Pria 27 tahun itu meninggal dunia.

Menurut ibunda, Syaifatul Khadijah Robby sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir sempat berpesan kepada orangtuanya. 

" Pesan Robby sebelum meninggal, dia bilang bagaimana caranya tolong lanjutkan perjuanganku. Ini supaya tidak ada lagi generasi-generasi yang sakit akibat rokok," tutur Syaifatul Khadijahd ditemui di acara peluncuran layanan masyarakat " Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal" di Anex Building, Thamrin, Jakarta Pusat.

Syaifatul menambahkan, anak keduanya itu menginginkan Presiden Jokowi untuk menandatangani petisi yang dibuatnya agar ada peraturan larangan merokok.

" Robby bahkan menuliskan petisi ke Presiden Jokowi supaya mendapatkan tandangan, agar mempunyai peraturan-peraturan bagaimana caranya ada batasan merokok di tempat-tempat umum," tambahnya.

Sementara itu, sebagai ibu Syaifatul berpesan keseluruh masyarakat khususnya para orangtua untuk lebih mengawasi anaknya dari bahaya merokok. Agar apa yang dialami oleh anaknya tidak terjadi pada orng tua diluar sana.

" Tunjukan bahaya akibat dar rokok agar tidak ada lagi korban-korban lagi seperti Robby. Denga iklan layanan masyarakat maka anak-anak akan takut, tapi kita harus mengawasi terus jangan sampai kecolongan," tandasnya. (Ism)

3 dari 5 halaman

`Rokok Itu Murah, Obatnya yang Mahal!`

 

Dream - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan luncurkan iklan layanan masyarakat pengendalian tembakau. Melalui iklan tersebut pemerintah berharap mereka yang merokok sadar akan bahaya dari rokok.

Kampanye yang berjudul " Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal" yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan menceritakan kisah Robby Indra Wahyuda (27) yang meninggal dunia karena kanker laring akibat rokok.

" Ini bagaimana agar anak kita tidak tersentuh rokok dan tidak menyentuh iklan rokok," ujar Kepala Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Eni Gustina, MPH ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 29 September 2015. 

Menurut Eni dengan adanya iklan layanan masyarakat pengendalian tembakau, pemerintah berharap nantinya ke depan bisa membatasi iklan rokok untuk tidak sampai ke anak-anak.

Dari data dan riset Kementerian Kesehatan, Eni mengatakan berdasarkan 67 persen laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok. 20 Persen anak usia 13 sampai 15 tahun sudah menjadi perokok aktif.   Inilah yang menjadi target utama pemerintah. Karena itu, pemerintah berharap dengan iklan ini, generasi muda tidak merokok.

" Kita berharap agar generasi muda tidak menjadi perokok. Demikian juga untuk generasi dewasa untuk berhenti merokok. keduanya sangat penting," kata Eni.

Mengingat pentingnya kesehatan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus melakukan upaya untuk melindungi generasi muda akan bahaya akibat rokok. Maka dari itu selain iklan kesehatan, dibuat pula beberapa peraturan dan gencar mempromosikan bahaya dari rokok.

" Tidak hanya melalui iklan ini tapi juga peraturan bersama beberapa kementerian upaya untuk terkait bahaya dari rokok. Upaya dilakukan gencar dilakukan agar masyarakat mengetahui bahaya akan rokok," tuturnya.

" Salah satu program bina keluarga bersih berkerja sama dengan PAUD. Perilaku hidup bersih dan sehat salah satunya memperkenalkan di keluarga untuk tidak merokok yang disampaikan sedini mungkin akan bahaya rokok," tambahnya.

Lebih dari itu Eni menambahkan, pemerintah sangat berharap kegiatan lain seperti edukasi bahaya akan rokok yang gencar dilakukan tidak hanya di Jakarta tapi dilakukan ke kota-kota besar lainnya.

" Kami berharap dengan ini tidak hanya di Jakarta, mudah-mudahan bisa melakukan kegiatan anti rokok ke beberapa daerah khususnya provinsi besar dan edukasi ke masyarakat," kata dia.

Menurut Eni ini ketiga kalinya Kementerian Kesehatan melncurkan layanan masyarakat terkait bahaya merokok. kita sengaja meminta Robby karena beliau demikian aktif melakukan anti rokok. karena itu kita dukung. Dan berharap secara nyata kisah ini dapat membuat generasi muda untuk menghindari rokok. (Ism)

4 dari 5 halaman

Status Terakhir Pejuang Anti Rokok Banjir Komentar Duka

Dream - Robby Indra Wahyuda, pejuang anti rokok yang kehilangan pita suara meninggal pada Selasa, 23 Juni 2015. Robby meninggal setelah berjuang melawan kanker larynx yang menggerogoti pita suaranya.

Sebelum meninggal, Robby sempat mengunggah status pada akun Facebook pribadinya pada tanggal 31 Mei 2015.

" Sesungguhnya kesabaran itu tiada batasnya, hanya manusia saja yang membatasinya," tulis Robby, diakses Dream.co.id pada Kamis, 25 Juni 2014.

Status tersebut banjir komentar yang berisi ucapan bela sungkawa. Jumlah komentar status tersebut mencapai 548 komentar.

Banyak juga pengguna Facebook yang kaget mendapat kabar meninggalnya Robby. Salah satunya dari Wahyuni Aryuni Kamil.

" Yang bener kak? kapan kan tepatnya meninggalnya, aq turut berduka cita, semoga keluarga yg di tinggalkan dapat bersabar dan kak robby diberikan tempat tebaik allah swt... thnx infonya," tulis pemilik akun WaHyuni Aryuni Kamil.

Ucapan bela sungkawa juga diutarakan oleh pemilik akun Windi Astuti.

" Innalillahi wainnalilah rojiun,,, semoga amal ibadah mas Robby smg khusnul khotimah dah diterima oleh Allah SWT, dilapangkan kuburx n diberi kesabaran buat klrg yg ditinggal. Aamiin," tulis pemilik akun.

 

5 dari 5 halaman

Rokok Elektrik Lebih Jahat dari Rokok Biasa!

Dream - Otoritas kesehatan California memperingatkan bahaya dari rokok elektrik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik seputar keamanan dari vaping, istilah lain untuk menghisap rokok elektrik.

Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat California, Ron Chapman mengatakan melakukanvaping sama saja dengan mengundang 10 jenis zat penyebab kanker.

Chapman telah membuat laporan yang menyimpulkan bahwa rokok elektrik adalah ancaman kesehatan bagi masyarakat.

Bagi para remaja yang menggunakan rokok elektrik menghadapi risiko merusak perkembangan otak mereka.

" Rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan bahan kimia berbahaya lainnya. Nikotin di dalam rokok elektrik tetap menimbulkan kecanduan seperti pada rokok konvensional," kata Chapman.

Chapman menambahkan ada banyak informasi yang salah tentang rokok elektrik. Itu sebabnya Chapman menyarankan masyarakat untuk menghindari penggunaan rokok elektrik dan menjauhkannya dari anak-anak segala usia.

Peringatan tersebut disampaikan setelah peneliti lainnya menemukan bahwa uap dari rokok elektrik mengandung senyawa kimia Formaldehida. Senyawa ini dikenal sebagai agen kanker yang mematikan.

Pekan kemarin, New England Journal of Medicine menerbitkan penelitian mereka yang mengklaim bahwa vaping lebih berbahaya daripada merokok.

Penelitian itu menemukan bahwa menghisap 10 kali rokok elektrik akan membombardir penggunanya 2,5 kali lebih banyak Formaldehida daripada menghabiskan satu pak rokok konvensional.

Disebutkan juga rokok elektrik bisa menimbulkan kebakaran seperti rokok konvensional dan dianggap tidak efektif dalam membantu orang berhenti merokok.

Badan Kesehatan Dunia WHO telah melarang penggunaan rokok elektrik di ruangan tertutup karena menimbulkan risiko bagi anak-anak dan janin.

(Sumber: Daily Mail)

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak