Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Shutterstock)
Dream - Pantai timur Amerika Serikat dan Karibia saat ini sedang dihantam badai Irma yang dikategorikan 5, atau bahaya. Badai Irma mematikan aktivitas masyarakat.
Selain badai Irma, sejumlah badai bernama unik pernah menerjang Amerika Serikat. Sebut saja badai Sandy pada 2012 dan Katrina pada 2005.
Penamaan unik fenomena alam yang mengerikan itu bukan tanpa alasan. Metode ini digunakan sebagai cara untuk memudahkan para analis cuaca untuk mengidenfitikasi kekuatan dan memberi peringatan kepada masyarakat.
Lembaga Meteorologi Dunia, WMO, dalam laman resminya menulis, penamaan ini pertama kali digunakan pada pertengahan 1900an. Kala itu, badai di Laut Atlantik menghancurkan kapal bernama Antje.
USA Today melaporkan, pada 1950 Pusat Badai Nasional Amerika Serikat memulai praktik formal penamaan badai di Atlantik. WMO kemudian mengembangkan metode serupa dan terus memperbaharui nama badai yang ditemukan.

Sejak diakui secara formal, metode penamaan itu disusun berdasarkan alfabet fonetik. Semisal, Adam, Baker, Charlie.
Pada 1953, organisasi itu merevisi metode yang membingungkan dan mulai menamai badai dengan nama perempuan. Tetapi, muncul bias gender pada penamaan badai menggunakan nama-nama yang fenimim.
Ada kesan, badai bernama feminin lebih desktruktif ketimbang badai bernama maskulin. Misalnya badai Carol dan badai Barbara.
Sistem ini kemudian diubah pada 1979 dan digunakan hingga sekarang.
Dengan sistem baru ini, ahli meteorologi membuat enam daftar nama feminin dan maskulin. Nama-nama itu akan dirotasi tiap enam tahun sekali. Artinya, daftar nama badai tahun ini akan digunakan kembali pada 2023.
Tetapi, untuk alasan kemudahan dalam daftar nama itu tidak ada awalan abjad Q, U, X, Y dan Z dalam daftar. Jika dalam satu tahun terjadi 21 kali badai, seperti pada 2005, ahli meterologi akan menggunakan alfabet Yunani untuk memberi tambahan.

Meski begitu, Badan Meteorologi Amerika Serikat akan 'memensiunkan' nama-nama badai yang dianggap merusak dan mematikan untuk alasan historis.
Salah satu nama yang 'dipensiunkan' yaitu badai Katrina yang menghantam New Orleans, Amerika Serikat, 2005. Selain itu, ada pula badai Sandy.
" Tidak ada yang akan melupakan Katrina atau Sandy karena mereka mengaitkan nama-nama itu dengan badai tertentu," Susan Buchanan, juru bicara National Weather Service mengatakan kepada ABC News.
Di Indonesia, WMO mencatat beberapa penamaan badai. Berbeda dengan Amerika Serikat, penamaan badai di Indonesia diasosiasikan dengan nama flora. Ada nama Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan hingga Teratai. Adapun untuk daftar nama pengganti, ada nama buah-buahan misalnya Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, hingga Sawo. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya