Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© 2025 Https://www.gemini.google.com
DREAM.CO.ID - Pagi ini, Jakarta diperkirakan akan sibuk oleh gelombang aksi dari para pengemudi ojek online (ojol). Mereka turun ke jalan menuntut kejelasan regulasi dan keadilan dalam sistem transportasi daring, di tengah ketidakpuasan yang sudah lama mengendap. Berikut liputan lengkapnya, dari tuntutan hingga efeknya bagi masyarakat umum.
Aksi kali ini diorganisir oleh Garda Indonesia, asosiasi besar pengemudi ojol. Mereka tak cuma ojol saja—aksi juga diikuti oleh kurir dan mahasiswa. Titik utama aksi berada di depan Gedung DPR/MPR RI di Jalan Gatot Subroto, Senayan. Rute aksi diperkirakan akan melewati Kementerian Perhubungan dan Istana Presiden.
Jumlah massa yang diprediksi ikut demo cukup besar: antara 2.000 hingga 5.000 orang.
Demo “ 179 Ojol” ini membawa beberapa tuntutan yang sudah lama menjadi sorotan. Berikut poin-poin inti yang disuarakan:
Karena aksi ini termasuk off bid massal — artinya banyak ojol yang mematikan aplikasinya sebagai bentuk solidaritas — maka pengguna layanan transportasi online harus cari alternatif.
Guna meminimalkan gangguan mobilitas, pemerintah dan pihak terkait umumnya mengimbau warga untuk menggunakan moda transportasi publik seperti Transjakarta, MRT, LRT yang hari ini memiliki tarif Rp1 sebagai bagian dari kebijakan khusus.
Lalu lintas diperkirakan akan padat di sekitar titik aksi. Jalan sekitar DPR, Kemenhub, Istana kemungkinan besar macet. Bagi yang berada di sekitar wilayah pusat Jakarta, disarankan untuk berangkat lebih pagi atau cari rute alternatif.
Ketua Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menyebut bahwa aksi ini adalah bentuk dorongan agar regulasi dan sistem aplikator bisa lebih adil bagi driver.
Di sisi lain, Asosiasi ojol di Semarang — SAKO — memutuskan tidak ikut demo. Alasannya: demo dianggap bukan solusi paling efektif di daerah mereka dan mereka lebih fokus ke agenda nasional melalui forum-forum resmi.
Ekonom juga ikut bersuara agar aksi ini tidak dijadikan ajang politik. Mereka meminta agar tuntutan bisa dibedakan antara kepentingan driver dan kepentingan politis.
Aksi ojol hari ini jelas menunjukkan bahwa suara pengemudi daring tidak bisa disepelekan. Masalah potongan tarif, regulasi tarif antar barang, dan keselamatan driver adalah isu nyata yang berdampak langsung ke keseharian mereka.
Semoga apa yang didemo hari ini bisa mendatangkan respon cepat dari pemerintah atau aplikator. Karena banyak driver berharap: sistem yang lebih adil, regulasi yang tegas, dan perlindungan yang nyata — bukan hanya janji.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya