Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin (Foto: Liputan6.com)
Dream - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, turut menanggapi pidato Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, yang menyebut imam, khatib hingga Mentri Agama harus dari kalangan nahdliyin.
"Kalau masjid NU-kan imam dan khatibnya dari NU. Kalau (masjid) Muhammadyah, ya khatib dan imamnya dari Muhammadiyah. Dan di luar (masjid) NU dan Muhammadiyah, masih banyak lagi. Tentu tak akan bisa satu ormas," ujar Din di Gedung MUI, Jakarta, Rabu 30 Januari 2019.
Meski demikian, Din tak ingin berpolemik lebih dengan pernyataan yang disampaikan Said Aqil pada Hari Lahir Muslimat NU tersebut. Sebab, kata dia, masih banyak persoalan lain yang lebih penting untuk dibahas.
"Maka perkara Kiai Said ini, saya kira dicukupkan saja demikian, dan Kiai Said saya rasa juga sudah mendengar juga ya pernyataan dari orang lain," ucap dia.
Din mengimbau kepada seluruh pimpinan ormas Islam atau tokoh lain agar senantiasa menjaga pernyataan agar tidak menimbulkan gesekan di masyarakat.
"Wantim MUI memesankan ini betul-betul wasiat secara ajaran agama itu, agar para ulama, dan elite, dan pimpinan ormas-ormas Islam, untuk bisa menahan diri tak mengeluarkan ucapan-ucapan, ujaran-ujaran, yang kemudian bisa menyinggung perasaan pihak lain," kata dia.
Dream - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menjelaskan pernyataan agar warga NU menempati pos penting mulai dari masjid sampai pemerintahan dikeluarkan karena keyakinan yang dipercayainya.
Pada pidato perayaan hari lahir Muslimat NU ke-73 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada Minggu 27 Januari 2019, Said menyampaikan warga NU harus menempati posisi penting mulai dari imam masjid, khotib hingga Menteri Agama.
Menurut pemahamannya, imam dan khotib yang berasal dari kalangan NU dianggap sudah paham mengenai rukun-rukunnya.
"Tajwidnya benar. Baca Alquran makhrojnya benar. Paham syarat rukun sholat ngerti, dari pesantren-kan kalau dari NU- itu," ujar Said saat dihubungi Dream, Senin, 28 Januari 2019.
Dia mengatakan, berdasarkan kitab kuning yang selama ini diajarkan di pesantren NU, tidak sah jika khotib menyampaikan ceramah dengan isi caci maki atau ujaran kebencian.
"Khotbah nggak boleh panjang tapi (bacaan) sholat boleh, khutbah itu yang penting memenuhi syarat rukun khutbah. Di sini khutbah panjang lebar, caci maki orang, politik lah, nggak sah itu kalau di kitab kuning," ucap dia.
Said menyadari jika pernyataannya tersebut bisa memicu kontroversi dan protes dari Ormas Islam lain. Menurutnya, hal tersebut merupakan sikap lumrah dan menjadi hak dari pemrotes.
"Ya silakan kalau ormas lain protes silakan. Itu biasa hak mereka. Itu keyakinan saya itu," kata dia.
"Kalau dari NU itu dari pesantren, baca Alquran, baca Al Fatihah-nya ketika jadi imam benar, syarat rukun sholat tahu, khutbah nggak caci maki," ujar dia.(Sah)
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Apa yang Terjadi Jika Semua Hutan di Bumi Hilang? Bukan Cuma Hewan, Kehidupan Manusia Ikut Terancam

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya
