Heboh, Buku Agama Berisi Banci Bisa Jadi Imam Salat

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 5 Maret 2015 15:15
Heboh, Buku Agama Berisi Banci Bisa Jadi Imam Salat
Unggahan foto buku itu mendapat banyak tanggapan dari para pengguna Facebook lainnya. Bahkan, terjadi perdebatan dalam komentar-komentar di bawah postingan tersebut.

Dream - Isi buku pelajaran agama Islam untuk sekolah dasar (SD) membuat heboh dunia maya. Sebab, dalam buku tersebut tertera bahwa banci boleh menjadi Imam apabila seluruh makmumnya perempuan.

Foto isi buku itu diunggah oleh Rika Rahma Dewi. Dalam profilnya, Rika menulis bahwa pekerjaannya adalah dokter di Puskesmas Mandau dan tinggal di Riau. Foto isi buku itu dia unggah pada Selasa 3 Maret 2015.

Allah menciptakan manusia itu laki2 dan perempuan. Ini buku kok masukin kriteria banci...hati2 bunda, perhatikan waktu anak kita belajar,” demikian tulis Rika dalam dinding Facebook, sebagaimana dikutip Dream, Kamis 5 Maret 2015.

Halaman buku itu menerangkan syarat menjadi Imam salat. Pada bagian awal halaman menuliskan bahwa syarat menjadi Imam adalah laki-laki yang baik akhlaknya dan fasih membaca Alquran.

Halaman itu kemudian menuliskan orang yang boleh dijadikan sebagai Imam. Pertama, laki-laki apabila makmumnya laki-laki, perempuan, dan banci. Kedua, perempuan, apabila seluruh makmumnya perempuan. Dan ketiga adalah banci, apabila seluruh makmumnya perempuan. Bagian selanjutnya, buku itu menulis orang yang tak boleh menjadi Imam.

Rika tak menyebut secara khusus penerbit dan di mana buku tersebut beredar. Yang jelas, unggahan foto buku itu mendapat banyak tanggapan dari para pengguna Facebook lainnya.

Salah satu pengguna Facebook yang berkomentar di bawah unggahan ini adalah Firdaus Herliansyah. “ Kayaknya permasalahan translasi ini ka,” tulis Firdaus.

Menurut Firdaus, buku tersebut salah menerjemahkan khuntsa, orang yang terlahir dengan dua alat kelamin, yang diterjemahkan menjadi banci. “ Padahal sejatinya khuntsa itu bukan banci yg dibuat-buat seperti zaman sekarang ini. kalo khuntsa memang masuk dalam pembahasan kitab-kitab fiqh para 'ulama.. mungkin kedepannya tim penerjemah buku harus lebih teliti lagi,” tulis Firdaus. 

Beri Komentar