Hoaks! Kabar 5000 Ustaz di Jabar Akan Disuntik Virus Corona

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 8 April 2020 14:30
Hoaks! Kabar 5000 Ustaz di Jabar Akan Disuntik Virus Corona
Pesan itu beredar di media sosial Facebook.

Dream - Di tengah kecemasan masyarakat akan wabah corona, para penyebar kabar bohong masih saja menebar isu yang semakin membuat publik gelisah sekaligus geram. Kali ini muncul sebuah narasi di sosial media Facebook yang menyebutkan sebanyak 5.000 ustaz di Jawa Barat akan disuntik virus Covid-19 sampai mati.

Kabar ini pertama kali disebarkan oleh akun dengan nama Edis Abu Syahla pada 6 April 2020.

Akun Facebook itu menggunggah status dengan narasi provokasi agar seluruh ustaz di Jabar waspada dengan undangan rapid test yang dilakukan oleh Pemda Jabar.

Berikut isi narasi hoaks yang dikutip dari Liputan6.com:

" *WASPADALAH...!!!*Perlu dicermati. Di runing teks sebuah TV, 5000 ustadz di Jabar akan menjalani *rapid test*. Lho kenapa hanya ustadz.? Kenapa nggak semua tokoh agama.? Waspadalah...!!! Ustadz yng lurus bisa divonis positif Corona...!!!*#Patut diduga gaya PKI*

*Modus Menghabisi Ustadz..!!??*Ustadz yg sehat bisa saja divonis PDP, dimasukkan RS, disuntik covid-19 sampai mati, dikantongi plastik langsung dikubur oleh RS.Tidak ada yang bisa protes. *Kita harus mengambil sikap tegas...*,"

Unggahan tersebut mendapat banyak tanggapan dari warganet dengan 22 kali dibagikan dan mendapat beberapa komentar.

1 dari 6 halaman

Penelurusan Fakta

Cek Fakta dilakukan Liputan6.com menggunakan situs pencari Google Search dengan kata kunci " ustaz di jabar corona" .

Hasilnya ditemukan artikel yang diunggah oleh turnbackhoax.id pada 6 April 2020 dengan judul " [Salah] Modus Menghabisi Ustadz, dusuntik covid-19 sampai mati"

PENJELASAN: Melalui pesan berantai Whatsapp dan juga media sosial Facebook, beredar sebuah narasi yang menyebut bahwa usulan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum terkait dengan rencana akan menggelar rapid test bagi 5.000 ustadz di Jawa Barat merupakan bentuk dari modus menghabisi ustadz. Menurut pesan yang beredar, nantinya ustadz yang sehat bisa saja divonis PDP, lalu dimasukan ke RS dan kemudian disuntik virus corona atau Covid-19 hingga meninggal dunia.

Faktanya, usulan Wakil Gubernur Jabar terkait dengan 5.000 ulama di Jabar harus menjalani rapid test mempunyai alasan yang mendasar. Ulama yang dimaksud adalah mulai dari tokoh agama di kampung dan desa hingga pondok pesantresn. Ulama sendiri masuk ke dalam kategori B, sebagaimana mereka adalah kelompok masyarakat yang dikategorikan sering bertemu dengan banyak orang. Melansir dari fajar.co.id, Uu menjelasakan, rencana tersebut juga dipicu dari hasil rapid test massal yang dilakukan di Jabar dalam kurun waktu satu pekan terakhir.
“ Rencana itu dipicu berdasar hasil rapid test massal di Jabar sepekan terakhir yang menunjukkan 667 orang terindikasi positif Covid-19. Seperti yang terjadi di rumah ibadah Lembang Bandung dan Stukpa Sukabumi,” jelasnya.

Menurut Uu, pesantren juga berpotensi menjadi kluster baru penularan Covid-19. Terlebih lagi, kiai atau sesepuh pondok pesantren sering menerima tamu atau bersalaman dengan santri. Oleh sebab itulah, Pemprov Jawa Barat akan melaukan rapid test secara massif kepada 5.000 kiai di Jawa Barat.

“ Pak Gubernur Jabar (Ridwan Kamil) meminta saya untuk koordinasi dengan tokoh ulama, MUI dan pimpin pondok pesantren untuk tes massal ini,” pungkasnya.

Melansir dari kompas.com, Uu menambahkan bahwa rapid test Covid-19 bagi 5.000 ulama ini dilakukan untuk kepentingan bersama demi memutus mata rantai penyebaran virus corona itu sendiri. Terkait dengan jadwal tes, Uu mengatakan hingga saat ini pihaknya tengah berkoodinasi dengan semua pemangku kepentingan, termasuk tokoh ulama dan pesantren.

Kesimpulannya adalah, narasi pesan yang menyebut bahwa usulan 5.000 ulama jalani rapid test merupakan bentuk modus menghabisi ulama merupakan informasi yang tidak berdasar. Narasi tersebut masuk ke dalam kategori misleading konten atau konten yang menyesatkan. Di mana narasi tersebut bisa menimbulkan tafsir atau pemahaman yang salah di masyarakat."

 

2 dari 6 halaman

Kesimpulan

Kabar yang beredar tentang 500 ustadz di Jawa Barat akan disuntik virus covid-19 sampai mati ternyata tidak benar. Para ustaz, kiai, dan ulama di Jawa Barat memang kerap bertemu banyak orang, sehingga diharuskan melalukakan rapid test untuk pencegahan persebaran virus Covid-19.

Sumber: Liputan6.com/Hanz Jimenez Salim

3 dari 6 halaman

Imbauan Polri Waspada Modus Rampok Lewat Disinfektan, Hoaks?

Dream - Kabar terkait modus rampok di tengah pandemi Covid-19 kian beredar di media sosial. Kabar perampokan ini pertama kali disebarkan melalui akun Facebook Guinevere Tan pada 30 Maret 2020 lalu.

Pada akun facebook Guinevere Tan mengunggah sebuah gambar berlatar sejumlah anggota polisi yang sedang duduk, sambil memperhatikan telepon genggamnnya masing-masing.

Ia menulis sebuah narasi tentang adanya modus perampokan yang sedang terjadi ditengah pandemi virus corona covid-19. Berikut narasinya yang dikutip dari Liputan6.com

" Assalamualaikum sekilas info..

Kalau ada yang suruh bka pintu...buat semprot virus corona jangan mau dibukakan pintunya, itu mereka adalah perampok, Mereka akan bilang: alasannya dari pemerintah program semprot kumat biar steril. Jangan di ijinkan, jika tidka ada pemberitahuan RT/RW setempat. Informasikan kepada anggoa keluarga lain.

HATI-HATI, MODUS BARU YANG MEMANFAATKAN SITUASI SAAT INI. Bantu share trm ksh."

Akun Facebook Guinevere Tan juga menambahkan narasinya.

" Kmrn dr group. Hati2 guys,"  tulis akun Facebook Guinevere Tan.

Konten yang diunggahnya kemudian mendapat respons dari banyak warganet dengan 227 kali dibagikan dan mendapat beberapa komentar dari warganet.

 

4 dari 6 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta yang dilakukan Liputan6.com kemudian menelisik tentang adanya modus perampokan, yang menyamar sebagai petugas penyemprotan disinfektan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Raden Prabowo Argo Yunowo, telah memberikan imbauan untuk berwaspada terkait kejahatan dengan modus berpura-pura menjadi petugas disinfektan.

Menurutnya, imbauan itu telah tercatat dalamsurat telegram (ST) bernomor ST/1098/IV/HUK.1./2020 yang ditandatangani oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komjen Listyo Sigit Prabowo.

" Ya benar, ada aturan kegiatan selama pandemik ini. Berkaitan dengan TR Kapolri yang diteken Kabareskrim, berkaitan penanganan kejahatan selama PSBB. Berkaitan street crime, melawan petugas, itu juga bisa ya," kata Argo.

Penelurusan selanjutnya dilakukan menggunakan situs pencari Google Search dengan memasukan kata kunci " rampok wabah corona"

 

5 dari 6 halaman

Pesan Berantai

Cek Fakta Liputan6.com kemudian mendapatkan artikel berjudul " Cek Fakta: Pesan Berantai Waspada Rampok di Tengah Wabah Corona, Ini Faktanya"  yang diunggah oleh Liputan6.com pada 10 Maret 2020.

Liputan6.com, Jakarta - Wabah virus corona dilaporkan sudah sampai ke Indonesia. Saat ini sudah ada 27 orang yang dinyatakan positif virus corona. Di tengah mewabahnya virus corona, beredar pesan berantai mengenai waspada perampokan bermodus petugas medis penyakit corona.

Pesan berantai ini beredar di aplikasi percakapan WhatsApp sejak 9 Maret 2020 lalu. Berikut narasinya:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Woro woro katur

Sedulur kulo sedoyo

Kalau ada yang suruh buka pintu buat semprot virus corona jangan main dibukakan pintunya, mereka itu adalah perampok, Mereka akan bilang : alasannya dari pemerintah program semprot kuman biar steril. Jangan di ijinkan, jika tidak ada pemberitahuan dari RT / RW setempat. Informasikan kepada anggota keluarga lain. *HATI-HATI, MODUS BARU YANG MEMANFAATKAN SITUASI SAAT INI SEMOGA BERMANFAAT BAGI SAUDARAKU SEMUA TERIMA KASIH*

 

6 dari 6 halaman

Hasil Penelusuran

Cek fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran pesan berantai yang viral tersebut. Penelusuran dilakukan menggunakan situs pencari google dengan memasukkan kata kunci " perampokan corona" .

Hasilnya terdapat beberapa artikel yang menjelaskan mengenai imbauan polisi di Aceh mengenai modus perampokan di tengah mewabahnya virus corona.

Liputan6.com mendapat keterangan dari Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Ery Apriyono. Ia membenarkan bahwa pihaknya mengeluarkan imbauan kepada warga agar waspada terhadap modus perampokan yang menyamar sebagai petugas medis virus corona.

" Sifatnya imbauan dari Polri," kata Ery kepada Liputan6.com, Selasa (10/3/2020).

Ery menambahkan, hingga kini pihaknya belum menemukan adanya kasus perampokan dengan modus menyamar sebagai petugas medis. Namun, masyarakat tetap diminta waspada. Ery memastikan bahwa pesan berantai yang sudah terlanjur viral itu bukan bersumber dari Polri.

" Sejauh ini belum ada," ucap dia.

Ery kemudian memberikan siaran pers yang berisi tentang imbauan antisipasi perampokan bermodus tenaga medis penyakit corona. Berikut isinya:

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH ACEH

BIDANG HUBUNGAN MASYARAKAT

SIARAN PERS

TENTANG :

POLDA ACEH HIMBAU ANTISIPASI KEJAHATAN BARU, PURA-PURA JADI TENAGA MEDIS PENYAKIT CORONA

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Ery Apriyono, S. I. K., M. Si, dalam siaran persnya, Senin (9/3), menyebutkan saat ini ada modus kejahatan baru dengan berpura-pura jadi tenaga kesehatan (medis), padahal tujuannya untuk melakukan kejahatan seperti perampokan atau pencurian.

Ini sudah terjadi di daerah lain di luar Aceh. Mereka menyamar berpura-pura menjadi tenaga medis datang ke rumah-rumah masyarakat dengan alasan untuk melakukan penyemprotan terhadap virus COVID 19 atau virus Corana, setelah itu baru melakukan aksi kejahatan baik perampokan atau pencurian, kata Kabid Humas.

Kabid Humas menghimbau masyarakat bila ada tamu yang datang ke rumah yang mencurigakan segera laporkan kepada tetangga atau kepala desa atau perangkat desa lainnya. Dan bila perlu laporkan kepada pihak keamanan terdekat, kata Kabid Humas.

Selain itu, pihak Kepolisian dalam hal ini adalah Dit Samapta bersama jajarannya seiring dengan ada modus operandi kejahatan baru ini akan meningkatkan patroli untuk mengantisipasi dan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan ini, kata Kabid Humas lagi.

Banda Aceh, 9 Maret 2020

Dikeluarkan oleh Bidhumas Polda Aceh

Pesan berantai berisi imbauan aksi perampokan di tengah mewabahnya virus corona diduga berasal dari sumber yang tidak terverifikasi.

Polri sebagai aparat penegak hukum tidak pernah menerbitkan imbauan melalui pesan berantai. Namun, Polri tetap meminta masyarakat waspada terhadap aksi kejahatan di tengah mewabahnya virus corona."

Kesimpulan yang didapat, kabar tentang adanya modus perampokan di tengah wabah corona memang belum terjadi. Kabar tersebut hanya merupakan imbauan polisi agar masyarakat lebih waspada terhadap kejahatan bermodus petugas penyemprotan disinfektan.

Sumber: Liputan6.com/Hanz Jimenez Salim

Beri Komentar