Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Tim peneliti di Universitas Hong Kong melaporkan adanya temuan pasien positif Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh tertular kembali virus corona pada Senin, 24 Agustus 2020. Temuan ini menjadi kasus pertama di dunia.
Temuan tersebut mengindikasikan penyakit yang telah menewaskan 800 ribu lebih orang di seluruh dunia akan terus menyebar. Meskipun populasi dunia telah memiliki kekebalan kawanan (herd immunity).
Pria 33 tahun dinyatakan sudah sembuh dari Covid-19 dan dibolehkan pulang dari rumah sakit pada April lalu. Tetapi hasil uji menunjukkan pasien tersebut kembali positif setelah kembali dari Spanyol via Inggris pada 15 Agustus lalu.
Dalam artikel yang dimuat pada jurnal medis Clinical Infectious Disease, para peneliti menyatakan pasien tersebut sebelumnya tampak sehat.
Dia tertular virus corona jenis yang berbeda dari yang pernah dialaminya. Tetapi tetap tidak menunjukkan gejala infeksi kedua.
" Penemuan ini bukan berarti pembuatan vaksin akan sia-sia," ujar dokter Kai Wang To, penulis utama artikel tersebut.
To mengatakan kekebalan yang timbul akibat vaksin bisa sangat berbeda dari yang disebabkan oleh infeksi alami. " Perlu menunggu hasil uji untuk melihat sejauh mana keefektifan dari vaksin," lanjut dia.
Pakar epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan tidak perlu mengambil kesimpulan apapun terkait kasus Hong Kong. Kasus orang positif Covid-19 sembuh dan keluar rumah sakit lalu kembali terkena penyakit yang sama sudah terjadi di China daratan.
Tetapi, tidak diketahui dengan jelas apakah mereka tertular virus lagi setelah sembuh total, seperti yang terjadi pada pasien Hong Kong. Ataukah mereka masih punya virus di dalam tubuhnya dari infeksi awal.
Ahli penyakit menular dari kelompok pakar China, Wang Guiqiang, mengatakan jumlah awal pasien Covid-19 yang hasil tesnya positif lagi sekitar 5-15 persen. Salah satu penjelasannya, virus masih ada di paru-paru pasien namun tidak terdeteksi pada sampel yang diambil dari bagian atas saluran pernapasan.
Sebab lain adalah kemungkinan sensitivitas tes yang rendah dan kekebalan yang lemah. Hal itu dapat menyebabkan hasil positif yang persisten.
Ahli dan konsultan di Proyek Genom Covid-19 di Institut Wellcome Sanger Inggris, Jeffrey Barrett, mengatakan sangat sulit untuk membuat kesimpulan yang kuat dari satu pengamatan.
" Mengingat jumlah infeksi global hingga saat ini, melihat satu kasus infeksi ulang tidaklah mengherankan meskipun itu kejadian yang sangat jarang," kata Barrett.
Sumber: Channel News Asia
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya