Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pernah melihat Magnetic Resonance Imaging (MRI)? Bagi yang belum tahu, MRI merupakan sebuah alat yang menggunakan medan magnet yang besar dan gelombang frekuensi radio untuk mengetahui kondisi penyakit pasien secara terperinci.
Dengan menggunakan MRI, dokter tak perlu melakukan pembedahan dan menggunakan sinar X atau bahan radioaktif untuk mencari tahu penyakit dengan pasti.
Meski begitu, menjalani proses pemeriksaan menggunakan MRI ini seperti mimpi buruk bagi sebagian pasien.
Itu karena ruang yang disediakan terlalu sempit dengan suara-suara menyeramkan di dalamnya. Pasien akan mendengar suara atau bunyi seolah-olah di sebuah pengeboran, kadang-kadang bahkan terdengar seperti reruntuhan di dalam gua.
Orang yang mengalami masalah klaustrofobia atau ketakutan berada di ruang sempit akan menyulitkan proses MRI ini.
Pengalaman pria Malaysia, Muhammad Bin Zolkifli, yang menjalani proses MRI baru-baru ini membuat dia belajar sesuatu yang berharga.
Bagi Zolkifli, sempitnya mesin MRI seperti himpitan saat mendapat siksa di alam kubur.
Bagaimana Zolkifli bisa menyamakan proses pemeriksaan menggunakan MRI seperti himpitan kubur? Silakan ikut kisahnya berikut ini.
© Dream
Sebelumnya menjalani proses, Zolkifli mendapat penjelasan dari dokter dan perawat yang ada di ruang MRI.
Dokter mengatakan akan ada banyak pemotretan selama pemindaian MRI. Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak dan tidak menelan air liur terlalu sering. Terutama saat mesin MRI sedang menembak atau memindai.
Sebelum didorong ke terowongan MRI, penutup berlubang ditempatkan di atas wajah Zolkifli. Mungkin untuk mencegah kepala bergerak atau melindungi kepala dari cedera.
Kemudian perawat meletakkan bola kecil di tangan kanan Zolkifli dan tubuhnya dibungkus dengan sejenis kain khusus sampai ke leher.
" Jika ada masalah saat di terowongan MRI nanti, cukup genggam bola ini sekuat mungkin," pesan perawat itu.
Semua orang kemudinan meninggalkan ruang MRI ke kamar masing-masing. Zolkifli tinggal sendirian di ruang MRI. Keadaan menjadi sunyi, sangat sunyi.
Setelah 2 menit, tubuh Zolkifli didorong ke terowongan MRI secara perlahan-lahan. Kepala masuk, tidak apa-apa walaupun sempit. Jarak antara hidung dan atap mesin MRI adalah sekitar 5-10cm.
Kemudian bagian bahu, lengan, siku - semuanya bergesekan dengan dinding MRI yang dingin. Begitu sempitnya terowongan MRI ini.
Bunyi tembakan atau pemindaian mulai kedengaran. Macam-macam bunyi yang dia dengar. Ada bunyi panjang, ada yang pendek.
Ada juga tembakan pemindaian yang terdengar seperti kaleng dipukul atau kayu dipecahkan. Awalnya suara itu perlahan tapi lama-lama menjadi cepat dan menyakitkan.
© Dream
Untuk 5 menit pertama, Zolkifli merasa baik-baik saja. Sepuluh menit kemudian dia mulai merasa ingin menelan air liur dan tangannya mulai mati rasa.
Setelah 15 menit, dia mulai susah bernapas, nyeri dada dan tangan menjadi mati rasa. Dia tidak dapat bergerak karena ruang sangat sempit.
Setelah 20 menit berlalu suara tembakan pemindaian semakin cepat dan kuat. Dadanya semakin berdegup kencang. Zolkifli mulai gelisah, lemas, dan terkena sesak napas. Dia mula mengalami hiperventilasi.
Berkali-kali Zolkifli meremas bola yang ada di tangan kanannya. Ingin meronta tapi tidak bisa karena ruang mesin MRI yang terlalu sempit.
" Ya Allah, aku tidak tahan. Apakah seperti ini himpitan kubur-Mu nanti? Ingin menjerit, tapi suara ibarat tersekat di kerongkongan," kenang Zolkifli.
MRI dihentikan, Zolkifli ditarik keluar. Dia tidak ingin melanjutkan MRI ini. Tetapi karena dokter perlu memverifikasi sesuatu melalui MRI, Zolkifli melanjutkan proses tersebut di malam hari menggunakan obat penenang.
" Ya Allah, aku takut himpitan kubur-Mu. Di kubur nanti, mana bola untuk aku remas? Siapa yang akan tarik aku keluar ke dunia lagi? Siapa yang akan menenangkan kegelisahanku nanti?"
Sumber: Siakapkeli.my
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya