Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Warga Gaza (www.kohram.in)
Dream - Bau anyir darah, orang terluka dengan bagian tubuh tak utuh, dan kepanikan, merupakan pemandangan yang sehari-hari dihadapi Dokter Bassel Abuwarda di Rumah Sakit Al Shifa, Gaza, Palestina. Langkahnya selalu tergesa. Apalagi saat berada di ruang gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa korban kebrutalan serangan Israel.
Dokter umum itu mencoba mengeluarkan kalimat tegas untuk menceritakan kondisi menyedihkan tersebut. Namun seolah suaranya tersumbat di kerongkongan. Kata demi kata dia keluarkan dengan tergagap. Sambil mencari-cari istilah tepat untuk menggambarkan kondisi warga Palestina yang menjadi korban senjata-senjata Israel.
" Saya tidak meminta, tidak. Saya mengemis kepada dunia untuk membantu kami menghentikan pembantaian yang sekarang terjadi di Gaza. Orang-orang sekarat setiap hari," kata Abuwarda dikutip Dream dari Al Arabiya, Rabu 6 Agustus 2014.
Sejak gempuran Israel pada awal Juli silam, sudah 1.830 warga Palestina tewas. Perempuan dan anak-anak tak luput dari serangan kejam tentara zionis. " Perempuan Palestina dan anak-anak dibunuh saat mereka tidur di rumah mereka, saya jarang melihat cedera ringan," kata dia.
Kondisi para korban serangan Israel sungguh memprihatinkan. Para korban, baik yang terluka maupun sudah meningal, datang ke rumah sakit tanpa potongan tubuh mereka.
Seminggu yang lalu, Rumah Sakit Al Shifa giliran menjadi target rudal Israel. Setidaknya sepuluh orang, termasuk anak-anak, tewas dalam serangan udara tersebut. Seorang dokter dari organisasi internasional, Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF), Tommaso Fabbri, mengutuk serangan itu.
" Menarget rumah sakit dan lingkungannya tidak dapat diterima. Itu merupakan pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional," tutur dia.
" Apapun kondisinya, fasilitas kesehatan dan tenaga medis harus dilindungi dan dihormati. Tapi di Gaza saat ini, rumah sakit tidak seaman seperti seharusnya," tambah Fabbri. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya