Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan terjadi penambahan kasus positif dalam sepekan terakhir. Sebagian besar terjadi akibat kegiatan rapat di perkantoran.
Yurianto mengingatkan sebisa mungkin ruangan yang digunakan untuk rapat maupun pertemuan lainnya memiliki sirkulasi udara yang baik. Dengan sirkulasi yang baik, udara dalam ruangan bisa berganti dan mengurangi risiko penularan Covid-19.
" Kami mengingatkan aktivitas ini (rapat) kalaupun harus dilaksanakan maka laksanakan di ruangan yang memiliki sirkulasi udara yang cukup baik," kata Yurianto di Gedung BNPB.
Dia menyarankan agar jendela ruangan dibuka terutama di pagi hari. Hal itu memungkinkan udara bisa keluar dan berganti.
" Matikan sementara AC dan pastikan udara bergerak," kata dia.
Selain itu, Yurianto juga menyarankan diberlakukan pembatasan kapasitas ruangan. Jika rapat mengharuskan keterlibatan banyak orang, maka dianjurkan sebagian peserta mengikuti dari ruangan lain dengan metode online.
" Agar kita bisa memastikan ruangan masih memberikan kesempatan bagi siapapun untuk menjaga jarak," kata dia.
Lebih lanjut, Yurianto juga menyarankan waktu rapat sebisa mungkin tidak terlalu lama. Demikian pula, rapat tidak melibatkan banyak pembicara untuk menghemat waktu.
" Hindari sajian yang memaksa peserta rapat untuk membuka masker," kata dia.

Dream - Muncul kabar yang menyatakan masyarakat perlu berhati-hati ketika diperiksa suhu tubuh menggunakan thermal guns. Penggunaan alat pengukur suhu yang tak memerlukan kontak fisik ini disebut dapat merusak otak.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, menyatakan secara tegas pernyataan tersebut tidak benar. Dia menegaskan klaim yang disebarkan seglintir masyarakat itu telah dibantah secara ilmiah oleh banyak ahli.
" Thermal guns hanya mengukur dengan radiasi sinar infra merah yang setiap saat akan dipantulkan dari semua benda yang ada di sekitar kita," ujar Yurianto di Gedung BNPB, Senin 20 Juli 2020.
Yurianto mengatakan cara kerja thermal guns tidak menggunakan sinar laser. Demikian pula, tidak menggunakan sinar radioaktif semacam X-ray namun hanya sinar infra merah.
" Beberapa referensi menyatakan statement merusak otak adalah statement yang salah," kata dia.
Selanjutnya, dia menyatakan pernyataan thermal guns merusak otak cukup berbahaya. Apalagi jika dikaitkan dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19.
" Ini akan membahayakan semua orang dan justru kontra produktif untuk mencegah penularan agar tidak terjadi," kata dia.
Lebih lanjut, Yurianto meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya pada kabar yang kebenarannya meragukan. Untuk mendapatkan informasi yang tepat, masyarakat dapat mengakses sejumlah laman resmi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya