Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri Luar Negeri Saudi Adel Jubair (alarabiya.net)
Dream - Kerajaan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Keputusan ini menyusul penyerangan dan pembakaran dua kantor kedutaan Arab Saudi di Iran akhir pekan lalu.
Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Adel Jubeir melalui siaran langsung melalui stasiun televisi Al Arabiya. Dia juga menyatakan pihaknya meminta para staf diplomatik Iran segera meninggalkan kedutaan di Saudi dalam waktu 48 jam.
Di samping itu, Jubeir menyebut Iran memiliki catatan panjang pelanggaran misi diplomatik. Dia juga menyebut Teheran menyebarkan ancaman regional lantaran terlibat penyelundupan senjata dan bahan peledak untuk jaringan Al Qaeda sejak 2001.
Penyerangan terjadi pada Sabtu pekan lalu oleh para warga Iran sebagai protes atas eksekusi 47 warganegara Iran di Riyadh. 47 orang tersebut didakwa terlibat dengan jaringan terorisme, termasuk pengkhotbah Syiah Nimr Al Nimr dan ideolog Al Qaeda Fares Al Shuwail.
Para pengunjuk rasa menyerang kedutaan Saudi di Teheran, merusak perabotan lalu membakarnya. Langkah mereka sempat dihalau oleh kepolisian setempat. Beruntung, tidak ada staf diplomatik yang berada di dalam gedung saat penyerangan terjadi.
Protes serupa yang berujung pada penyerangan dan pembakaran terjadi lagi keesokan harinya. Kali ini terjadi di kantor kedutaan Saudi di kota Masyhad.
Langkah Saudi ternyata memicu keterlibatan beberapa negara lain di kawasan Teluk. Bahrain, Sudan, dan Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan mengikuti langkah Saudi mengusir duta besar dan memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Keputusan ini diambil Bahrain sehari setelah Saudi mengumumkan pengusiran duta besar. Bahrain mengeluarkan peringatan pada Senin, 4 Januari 2016, agar duta besar Iran harus keluar dari Manama dalam 48 jam, sementara duta besar untuk Iran akan ditarik dari Teheran.
Segera setelah pengumuman itu, Sudan memutuskan untuk mengusir duta besar dari Kartoum dan menyatakan hubungan diplomatik dengan Iran berakhir. Dalam beberapa bulan belakangan, Sudan memang mengurangi intensitas kerjasama dengan Negeri Para Mullah itu secara bertahap.
UAE juga mengambil kebijakan yang sama dengan menarik seluruh tenaga diplomatik untuk Iran. Peran duta besar kemudian dialihkan kepada Kuasa Usaha, sehingga hanya terjadi hubungan dagang tanpa ada hubungan politik.
Sumber: alarabiya.net, theguardian.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya