UU JPH Gairahkan Industri dan Wisata Halal

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 16 Januari 2020 19:00
UU JPH Gairahkan Industri dan Wisata Halal
Beberapa wilayah sudah menerapkan status wilayah halal.

Dream - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Sukoso, menyebut penerapan kewajiban sertifikat halal sebagai amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) menjadi stimulan untuk menggerakkan sejumlah sektor industri dan wisata halal.

“ Wajib halal yang telah dimulai 17 Oktober 2019 ini menstimulasi adanya inisiasi positif dari banyak kementerian, dan kami siap menfasilitasi dalam penjaminan produk halalnya,” kata Sukoso, dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis 16 Januari 2020.

Dia mencontohkan, saat ini mulai bermunculan Kawasan Industri Halal yang semuanya mengarah untuk menghasilkan produk halal secara efektif, efisien, good governance, dan transparan.

“ Halal itu sendiri merupakan sebuah status hukum yang didasarkan oleh ketentuan ajaran Islam atau syariah. Sehingga produk halal, sebagaimana diatur oleh Undang-Undang, merupakan produk yang dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam,” ujar dia.

Sukoso menjelaskan, wajib halal dilaksanakan dengan kebijakan penahapan yang meliputi produk makanan dan minuman. Sedangkan jenis produk lainnya seperti, kosmetik, obat-obatan, dan barang gunaan lainnya berada dalam fase pembinaan.

Saat ini, kata Sukoso, beberapa wilayah di Indonesia sudah menyatakan diri sebagai wilayah atau kawasan industri halal. Beberapa lokasi tersebut, diantaranya, Cikande, Pulau Bintan, Jakarta Pulogadung, Batam dan Sidoarjo.

" Atau wilayah lainnya yang dengan kebijakan daerahnya masing-masing menyatakan diri sebagai kawasan Wisata halal. Ini tentu kita fasilitasi dalam hal Jaminan Produk Halalnya," ucap dia.

1 dari 4 halaman

Jurnalis Muslim Bagikan Pengalaman Cicipi 'Daging Babi Halal'

Dream - Kemajuan teknologi telah membuat segala sesuatu yang tadinya mustahil menjadi mungkin dan bisa terjadi.

Tetapi apa jadinya jika perkembangan teknologi itu bertentangan dengan agama? Contohnya seperti produksi daging 'babi halal'.

Sekitar 8 Januari lalu, media sosial dunia diramaikan perbincangan sebuah perusahaan yang mengaku berhasil membuat sebuah makanan dengan aroma dan rasa yang sama seperti daging babi.

Nah, baru-baru ini seorang jurnalis dari agensi media Internasional, Abrar Al-Heeti berbagi pengalamannya saat diundang untuk berkunjung ke Impossible Foods, perusahaan yang memproduksi daging 'babi halal'.

Abrar diundang untuk merasakan sendiri rasa daging itu untuk pertama kalinya.

2 dari 4 halaman
3 dari 4 halaman

Pro Kontra Masyarakat

Peluncuran daging 'babi halal' hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.

Sebagian ada yang ingin merasakan patty, sementara yang lain masih banyak mempertanyakan status kehalalan dari patty itu sendiri.

Mustafa Umar, seorang imam yang berbasis di California mengatakan jika ada orang yang bertanya apakah ia ingin mencicipi daging tersebut, tentu dengan tegas ia akan menjawab tidak.

" Aku akan mengatakan tidak, kecuali mereka sudah terlanjur memakan daging babi dan berusaha untuk berhenti," katanya.

Untuk bahan dasar pembuatan daging 'babi halal' ini sendiri adalah heme. Sebuah protein yang tumbuh dari akar kedelai yang rasanya menyerupai daging babi.

4 dari 4 halaman

Ini Videonya

Beri Komentar