Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Aulia Giffarinnisa (covid19.go.id)
Dream - Tak mudah bagi tenaga medis dalam mengangani pasien Covid-19, termasuk mereka yang bertugas di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Jakarta. Mereka harus berbalut baju hazmat yang panas berjam-jam.
Salah satu relawan di RSD Covid-19 adalah Aulia Giffarinnisa. Meski harus menjalani puasa, dokter yang pernah bertugas di Sulawesi Selatan ini tak mundur dari garis terdepan penanganan Covid-19.
Sebelum terjun ke Wisma Atlet, dokter yang karib disapa Farin itu harus melalui berbagai rintangan, salah satunya tidak mendapat izin keluarga. Keluarganya khawatir karena angka positif Covid-19 di Indonesia terus merangkak naik.
Namun, Farin tidak menyerah. Dia terus meyakinkan orangtuanya agar mendapat restu mengabdi dalam menangani Covid-19 di Indonesia.
" Akhirnya izin dari orangtua saya keluar pada Agustus lalu dan mulai September saya bertugas di Wisma Atlet," kata Farin, dikutip dari covid19.go.id, Minggu 6 Desember 2020.
Dia mengaku mengalami suka duka selama bertugas, apalagi pada September silam tempat tidur di RSD Wisma Atlet hampir penuh. Awalnya takut, namun Farin cepat beradaptasi.
" Sistem kerja shift 8 jam namun karena memakai APD maka harus bersiap satu jam sebelumnya. Selama bertugas juga tidak boleh membuka APD jadi tidak boleh buang air dan terpaksa puasa," cerita dia.
Usia boleh saja masih hijau, status pun masih dokter muda dari daerah, namun Farin tak minder di lapangan. Dia tak merasa berjarak dengan tenaga medis dan kesehatan lainnya. " Di sini semuanya satu misi untuk menangani Covid-19 jadi semuanya disiplin. Beda dengan di luar, masih ada yang cuek dengan protokol kesehatan," tuturnya.
Farin mengaku menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya menghadapi pasien yang ngeyel karena merasa tidak nyaman dalam perawatan, padahal termasuk kategori bergejala berat.
" Kadang mereka sering melepas selang oksigen padahal mereka sangat perlu hanya mereka merasa tidak nyaman," ujarnya.
Namun, Farin tetap bersabar. Dia melakukan pendekatan secara psikologis dan berusaha memahami para pasien banyak tertekan karena tidak ditemani oleh keluarga.
" Mereka hanya didampingi dokter dan tenaga kesehatan. Salah satu pengalaman tidak terlupakan menyaksikan bagaimana proses pasien yang satu bulan dirawat dengan gejala parah sekali hingga akhirnya bisa sembuh dan dinyatakan negatif dan diijinkan pulang," ujar dia.
Farin berpesan kepada masyarakat agar tidak menunggu dan berpikir lama untuk berkontribusi dalam pencegahan Covid-19, mulai dari dari yang paling kecil dan mudah dilakukan.
" Kontribusi minimal yang dapat dilakukan adalah mencegah penularan dari diri sendiri dan orang di sekitar. Laksanakan protokol kesehatan 3M," ucap Farin.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya