Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Cuma 9 Persen dari 512 Kabupaten yang Warganya Masih Patuh Pakai Masker

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 6 Desember 2020 18:30
Cuma 9 Persen dari 512 Kabupaten yang Warganya Masih Patuh Pakai Masker
Tren kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan usai libur panjang akhir Oktober terus menurun.

Dream - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan kasus Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir meninggi. Hal ini menandakan masih banyak orang yang tertular.

" Jadi sebenarnya tingkat penularan di masyarakat masih tinggi," ujar Wiku dalam diskusi yang disiarkan channel YouTube BNPB.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena tingkat kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan cukup rendah. Bahkan muncul indikasi pengabaian akan pentingnya prokes untuk mencegah penularan Covid-19.

Wiku mengatakan temuan ini terlihat dari hasil pemantauan pada November 2020. Terlihat tingkat kedisiplinan masyarakat terkait prokes mengalami penurunan.

Penurunan ini bertepatan dengan periode libur panjang 28 Oktober hingga 1 November 2020. Tingkat kepatuhan terus menurun hingga 27 November 2020.

 

 

1 dari 4 halaman

Ingatkan Masyarakat Segera Sadar

Di akhir November, Wiku mengatakan persentase kepatuhan masyarakat memakai masker hanya sebesar 58,32 persen. Sedangkan untuk menjaga jarak hanya 43,46 persen.

Selanjutnya, Wiku mengungkapkan kurang 9 persen dari 512 kabupaten dan kota yang masyarakatnya patuh memakai masker. Sedangkan kurang dari 4 persen dari jumlah kabupaten kota tersebut yang masyarakat disiplin menjaga jarak.

" Mohon masyarakat segera sadar, langkah kecilnya untuk mencuci tangan secara teratur, dengan memakai masker yang benar, bahkan upaya kecil untuk berusaha menjaga jarak satu sama lain sangat berdampak bagi kehidupan banyak umat manusia," ucap Wiku.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 4 halaman

Satgas Covid-19 Desak Pemda Tegas Tegakkan Disiplin Prokes Libur Akhir Tahun

Dream - Libur panjang menjadi momen yang diwaspadai semua pihak. Pemerintah tidak ingin lagi terjadi lonjakan kasus akibat libur panjang di di mana masyarakat abai dalam penerapan protokol kesehatan.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, meminta pemerintah daerah dapat menegakkan disiplin protokol kesehatan selama libur panjang tanpa pandang bulu. Selain itu, pemda juga dapat tegas dan berani membubarkan kerumunan.

" Selain itu, lakukan juga amplifikasi kampanye protokol 3M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak," ujar Wiku dalam konferensi pers disiarkan channel YouTube BNPB.

Tak hanya itu, Wiku juga meminta masyarakat untuk mengurangi mobilitas di luar rumah selama libur panjang akhir tahun nanti. Sebisa mungkin, masyarakat melakukan perjalanan hanya jika dinilai benar-benar perlu.

" Walaupun sulit meminimalisasi mobilitas, tetapi kita harus menyadari bahwa langkah ini merupakan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat," kata dia.

Pemerintah telah memutuskan untuk memangkas libur akhir tahun 2020 sebanyak tiga hari. Ini untuk menekan potensi lonjakan kasus Covid-19 seperti pengalaman libur panjang sebelumnya.

" Langkah ini untuk mengantisipasi potensi meningkatnya kasus positif yang seringkali terjadi para periode libur panjang," ucap Wiku.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 4 halaman

Wajib Tahu! Ini Alasan Testing Covid-19 Penting Diikuti Saat Pandemi

Dream - Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 dr. Dewi Nur Aisyah mengatakan, tahapan testing Covid-19 penting dilakukan guna memutus rantai penyebaran virus Corona. Dengan proses ini, diharapkan bisa mengidentifikasi seseorang yang positif atau tidak terinfeksi Covid-19.

Menurut Dewi, tindakan testing masuk strategi yang banyak diterapkan berbagai di negara di dunia. Alasannya, Covid-19 merupakan sebuah penyakit yang sangat cepat menular.

Dr Dewi mengatakan, pemahaman terhadap karakteristik Covid-19 yang cepat menular harus dipahami dengan cermat. Ia mencontohkan penularan banyak masyarakat yang tak menyadari jika dia telah menjadi orang yang menularkan corona kepada orang lain.

Kondisi ini akan menjadi mengkhawatirkan lantaran bisa meningkatkan angka pasien yang terinfeksi.

" Jadi pemeriksaan itu dilakukan untuk mengidentifikasi, siapa saja orang yang sudah tertular, kemudian dilakukan mulai dari isolasi mandiri atau perawatan di rumah sakit dan juga dilakukan kontak tresing ini yang sangat penting,"  kata dr Dewi dalam konferensi pers BNPB, Rabu 2 Desember 2020.

4 dari 4 halaman

SDM Indonesia Perlu Dilatih

Meski begitu, Dewi juga menyoroti soal ketersediaan SDM yang melakukan pemeriksaan di laboratorium. Pasalnya, SDM di Indonesia masih terus dilatih untuk bisa melakukan pemeriksaan di laboratorium.

" Untuk bisa memeriksa Cobid-19 ini juga ternyata perlu waktu. Kita ingat bulan Maret awal terjadi pandemi ini bentuk virus yang seperti apa saja kita masih belajar. Pada saat itu laboratorium-laboratorium belum banyak yang memenuhi persyaratan. Karena tidak sembarang laboratorium semua bisa digunakan untuk pemeriksaan Covid-19," paparnya.

" Karena ini penyakit infeksi yang sangat mudah menular, maka ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah laboratorium untuk dapat menjadi masuk ke dalam jejaring pemeriksaan lab di Indonesia," jelasnya.

Beri Komentar